Social Items



SUARAKALTARA.COM, TANJUNG SELOR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Utara (Kaltara) menggelar simulasi evakuasi bencana kebakaran di wilayah permukiman. Simulasi digelar di halaman Sekolah Dasar (SD) Negeri 006 Tanjung Selor, Rabu (26/4).

Kepala BPBD Kaltara, Mohammad Pandi menjelaskan, simulasi digelar guna memperingati Hari Kesiapsiagaan Nasional, serta 10 tahun kelahiran Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

“Semangatnya adalah untuk mengantisipasi bencana yang terjadi sebelumnya, seperti tsunami Aceh tak terulang kembali,” kata Pandi.

Sesuai instruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), penyelenggaraan kegiatan tahunan ini disesuaikan dengan karakteristik daerah masing-masing. “Kenapa kita pilih sekolah dasar, karena sifat bencana itu tidak memilih waktu dan usia,” jelas Pandi.

Lewat simulasi ini, diharapkan korban bencana dapat segera diatasi dan dievakuasi. “Pemerintah dan masyarakat harus bahu-membahu menjalankan tugas kemanusiaan seperti ini karena persoalan ini merupakan tanggung jawab semua pihak,” ucap Pandi sembari menyebutkan, pada 2018 pihaknya akan menggelar kegiatan sejenis berskala besar dengan melibatkan elemen masyarakat bekepentingan.

(suarakaltara/komandokaltara)

Hadapi Bencana, Ini yang Dilakukan BPBD Kaltara

SUARA KALTARA

SUARAKALTARA.COM, TANJUNG SELOR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Utara (Kaltara) menggelar simulasi evakuasi bencana kebakaran di wilayah permukiman. Simulasi digelar di halaman Sekolah Dasar (SD) Negeri 006 Tanjung Selor, Rabu (26/4).

Kepala BPBD Kaltara, Mohammad Pandi menjelaskan, simulasi digelar guna memperingati Hari Kesiapsiagaan Nasional, serta 10 tahun kelahiran Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

“Semangatnya adalah untuk mengantisipasi bencana yang terjadi sebelumnya, seperti tsunami Aceh tak terulang kembali,” kata Pandi.

Sesuai instruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), penyelenggaraan kegiatan tahunan ini disesuaikan dengan karakteristik daerah masing-masing. “Kenapa kita pilih sekolah dasar, karena sifat bencana itu tidak memilih waktu dan usia,” jelas Pandi.

Lewat simulasi ini, diharapkan korban bencana dapat segera diatasi dan dievakuasi. “Pemerintah dan masyarakat harus bahu-membahu menjalankan tugas kemanusiaan seperti ini karena persoalan ini merupakan tanggung jawab semua pihak,” ucap Pandi sembari menyebutkan, pada 2018 pihaknya akan menggelar kegiatan sejenis berskala besar dengan melibatkan elemen masyarakat bekepentingan.

(suarakaltara/komandokaltara)

No comments