Social Items

SUARAKALTARA.COM, TANJUNG SELOR - Berdasarkan informasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), prosentase kelulusan pelajar tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se Kaltara pasca penerapan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dan Ujian Nasional (UN) tahun ini, cukup tinggi meski tidak 100 persen.

Dari 2.351 peserta USBN dan UN SMK, yang dinyatakan lulus sebanyak 2.332 pelajar atau sekitar 99,14 persen. Sementara yang tak lulus, 20 pelajar atau 0,96 persen. Penyebab tak lulusnya mereka, di antaranya menikah, berhenti dan tak mengikuti UN.

“Ini sudah cukup memuaskan, meski sedikit disayangkan masih ada yang tak lulus,” kata Gubernur Kaltara, Dr H Irianto Lambrie.

Menindaklanjuti tambahan lulusan SMK itu, dijelaskan Irianto, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara melalui Disdikbud menginstruksikan kepada seluruh kepala SMK di Kaltara untuk membuat instrumen penelusuran alumni masing- masing.

Ini merupakan alat untuk mendata lulusan SMK yang terserap di dunia kerja dan dunia industri, maupun yang membuka usaha sendiri.

“Harapannya, kepala SMK membuat angket yang berisi semacam data laporan yang diberikan kepada siswanya yang telah lulus. Nanti setelah mendapat pekerjaan, angket tersebut dikembalikan lagi ke sekolahnya," tutur Irianto.

Disebutkan Gubernur, esensi keberadaan SMK untuk mendidik, melatih, dan mempersiapkan siswa pada kompetensi keahlian sesuai jurusan yang dipelajarinya, sehingga siap kerja pada level menengah. Oleh karenanya, lulusan SMK memang hanya dipersiapkan untuk bekerja pada level menengah.

“Kami mengharapkan kalangan dunia usaha dan dunia industri di Kaltara dapat bersama-sama bersinergi dengan kepala SMK di Kaltata, untuk menyusun kurikulum mata pelajaran produktif supaya muatan produktif yang diajarkan di SMK selalu update serta link and match dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri," urai Irianto.

Lanjut Gubernur, pada gilirannya kalangan dunia usaha dan dunia industri tidak perlu lagi mendatangkan pekerja pada level pelaksana dari luar, lantaran telah dipersiapkan oleh SMK di Kaltara sesuai keterampilan yang diperlukan.

Kepala SMK juga diminta jeli membuka atau menutup jurusan yang ada di sekolahnya dengan selalu memperhatikan perkembangan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri maupun peluang jurusan itu sendiri dalam membekali siswa untuk berwirausaha. (an-sor)

Tingkat Kelulusan SMK Capai 99,14 Persen

SUARA KALTARA
SUARAKALTARA.COM, TANJUNG SELOR - Berdasarkan informasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), prosentase kelulusan pelajar tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se Kaltara pasca penerapan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dan Ujian Nasional (UN) tahun ini, cukup tinggi meski tidak 100 persen.

Dari 2.351 peserta USBN dan UN SMK, yang dinyatakan lulus sebanyak 2.332 pelajar atau sekitar 99,14 persen. Sementara yang tak lulus, 20 pelajar atau 0,96 persen. Penyebab tak lulusnya mereka, di antaranya menikah, berhenti dan tak mengikuti UN.

“Ini sudah cukup memuaskan, meski sedikit disayangkan masih ada yang tak lulus,” kata Gubernur Kaltara, Dr H Irianto Lambrie.

Menindaklanjuti tambahan lulusan SMK itu, dijelaskan Irianto, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara melalui Disdikbud menginstruksikan kepada seluruh kepala SMK di Kaltara untuk membuat instrumen penelusuran alumni masing- masing.

Ini merupakan alat untuk mendata lulusan SMK yang terserap di dunia kerja dan dunia industri, maupun yang membuka usaha sendiri.

“Harapannya, kepala SMK membuat angket yang berisi semacam data laporan yang diberikan kepada siswanya yang telah lulus. Nanti setelah mendapat pekerjaan, angket tersebut dikembalikan lagi ke sekolahnya," tutur Irianto.

Disebutkan Gubernur, esensi keberadaan SMK untuk mendidik, melatih, dan mempersiapkan siswa pada kompetensi keahlian sesuai jurusan yang dipelajarinya, sehingga siap kerja pada level menengah. Oleh karenanya, lulusan SMK memang hanya dipersiapkan untuk bekerja pada level menengah.

“Kami mengharapkan kalangan dunia usaha dan dunia industri di Kaltara dapat bersama-sama bersinergi dengan kepala SMK di Kaltata, untuk menyusun kurikulum mata pelajaran produktif supaya muatan produktif yang diajarkan di SMK selalu update serta link and match dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri," urai Irianto.

Lanjut Gubernur, pada gilirannya kalangan dunia usaha dan dunia industri tidak perlu lagi mendatangkan pekerja pada level pelaksana dari luar, lantaran telah dipersiapkan oleh SMK di Kaltara sesuai keterampilan yang diperlukan.

Kepala SMK juga diminta jeli membuka atau menutup jurusan yang ada di sekolahnya dengan selalu memperhatikan perkembangan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri maupun peluang jurusan itu sendiri dalam membekali siswa untuk berwirausaha. (an-sor)

No comments