Social Items



(Foto:Ilustrasi)


SUARAKALTARA.com,TARAKAN - Setelah dua pelaku penangkapan kasus sabu-sabu seberat 5 Kg yang dilakukan oleh Tim EFQR Lantamal XIII Tarakan pada hari Senin (12/6), di serahkan kepada pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) kota Tarakan, Pihak BNN juga melakukan penangkapan terhadap salah satu petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II A Tarakan.

Salah satu petugas Lapas yang di tangkap itu berinisial HD. Penangkapan ini dilakukan ketika pihak BNN melakukan pengembangan kepada tiga pelaku yang ditangkap sebelumnya. Hal ini karena salah satu pelaku memberi keterangan bahwa ada salah satu petugas lapas yakni HD yang memesan barang tersebut.

Tidak lama-lama, mendengar hal ini pihak BNN langsung melakukan penangkapan langsung kepada HD yaitu salah satu petugas lapas yang bertugas sebagai Pengamanan Pintu Utama (P2U) untuk memeriksanya arus lalu lintas orang dan barang masuk.

Dikatakan Kepala Lembaga Permasyarakatan (Kalapas) Tarakan, Fernando Kloer, BC. IP, SH membantah bahwa anggotanya terlibat dalam kasus penangkapan Narkoba jenis sabu-sabu yang senin lalu di ringkus oleh tim EFQR Lantamal XIII Tarakan. 

Penangkapan HD ini dilakukan pada Senin malam lalu pada jam 22.00 Wita, ketika HD sedang bertugas menjaga pintu masuk lapas. “Jadi isi surat yang saya buat adalah saya keberatan tentang hal ini dan ditebuskan ke Panglima TNI, Komandan Lantamal, Menteri Hukum dan Ham, Komnas Ham, Kapolda dan Kapolres,” kata Fernando kepada SuaraKaltara.com.

Fernando juga mengatakan kenapa petugasnya di ambil secara paksa dan tidak menyurati dulu Kalapas untuk pemangilan anggotanya. Seharusnya BNN meminta izin pemeriksaan dulu terhadap petugas nya bukan melakukan penculikan dan dibuat babak belur.

“Kalau memang barang itu adalah pesanan lapas, seharusnya di periksa dulu. Ini barangnya ketika diterima belum diperiksa malah main tangkap dan dipaksa oleh pihak Lantamal dan BNN Tarakan,” ungkapnya.

Dirinya juga menjelaskan akan melaporkan masalah ini kepada Kantor Wilayah Hukum dan HAM di Samarinda, Dirjen Lembaga Pemasyarakatan dan Kementrian Hukum dan HAM di Jakarta. Ia sangat menyesal dengan kejadian tersebut dan berharap kejadian ini tidak akan terulang dan menegaskan kalau memang ingin menangkap salah satu petugas kami harus melakukan komunikasi, kordinasi dan izin kepada dirinya selaku Kepala Lapas Tarakan.

"Negara kita ini adalah negara hukum seharusnya diutamakan praduga tidak bersalah (Presumption of Innocence)  bukan melakukan tidak secara manusiawi itu merupakan pelanggran HAM"sesalnya.

Fernando juga menanyakan hal serupa kepada Kepala BNN Tarakan Dr. Hj. Agus Surya Dewi, Mengapa pihaknya langsung menuding petugasnya sebagai tersangka. "Kecuali kalau tadi sudah ada pemeriksaan lebih lanjut dengan barang tersebut" tambahnya lagi.

“Ini pelanggaran HAM, praduga tak bersalah dan termasuk penculikan ini. Kecuali ada barang bukti (BB), lalu di HP nya ada komunikasi sudah ada apa tidak, ini tidak ada sama sekali,” tegasnya.


Terkait masalah penangkapan ini, dirinya sudah mendapatkan surat dari BNN bahwa HD berstatuskan tersangka. Ketika dikonfirmasi oleh Suara Kaltara, Kepala BNN Tarakan Dr. Hj. Agus Surya Dewi menolak untuk ditemui oleh awak media dengan alasan masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. (JEF)

HD Jadi Tersangka, Kalapas : Ini Penculikan!

SUARA KALTARA


(Foto:Ilustrasi)


SUARAKALTARA.com,TARAKAN - Setelah dua pelaku penangkapan kasus sabu-sabu seberat 5 Kg yang dilakukan oleh Tim EFQR Lantamal XIII Tarakan pada hari Senin (12/6), di serahkan kepada pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) kota Tarakan, Pihak BNN juga melakukan penangkapan terhadap salah satu petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II A Tarakan.

Salah satu petugas Lapas yang di tangkap itu berinisial HD. Penangkapan ini dilakukan ketika pihak BNN melakukan pengembangan kepada tiga pelaku yang ditangkap sebelumnya. Hal ini karena salah satu pelaku memberi keterangan bahwa ada salah satu petugas lapas yakni HD yang memesan barang tersebut.

Tidak lama-lama, mendengar hal ini pihak BNN langsung melakukan penangkapan langsung kepada HD yaitu salah satu petugas lapas yang bertugas sebagai Pengamanan Pintu Utama (P2U) untuk memeriksanya arus lalu lintas orang dan barang masuk.

Dikatakan Kepala Lembaga Permasyarakatan (Kalapas) Tarakan, Fernando Kloer, BC. IP, SH membantah bahwa anggotanya terlibat dalam kasus penangkapan Narkoba jenis sabu-sabu yang senin lalu di ringkus oleh tim EFQR Lantamal XIII Tarakan. 

Penangkapan HD ini dilakukan pada Senin malam lalu pada jam 22.00 Wita, ketika HD sedang bertugas menjaga pintu masuk lapas. “Jadi isi surat yang saya buat adalah saya keberatan tentang hal ini dan ditebuskan ke Panglima TNI, Komandan Lantamal, Menteri Hukum dan Ham, Komnas Ham, Kapolda dan Kapolres,” kata Fernando kepada SuaraKaltara.com.

Fernando juga mengatakan kenapa petugasnya di ambil secara paksa dan tidak menyurati dulu Kalapas untuk pemangilan anggotanya. Seharusnya BNN meminta izin pemeriksaan dulu terhadap petugas nya bukan melakukan penculikan dan dibuat babak belur.

“Kalau memang barang itu adalah pesanan lapas, seharusnya di periksa dulu. Ini barangnya ketika diterima belum diperiksa malah main tangkap dan dipaksa oleh pihak Lantamal dan BNN Tarakan,” ungkapnya.

Dirinya juga menjelaskan akan melaporkan masalah ini kepada Kantor Wilayah Hukum dan HAM di Samarinda, Dirjen Lembaga Pemasyarakatan dan Kementrian Hukum dan HAM di Jakarta. Ia sangat menyesal dengan kejadian tersebut dan berharap kejadian ini tidak akan terulang dan menegaskan kalau memang ingin menangkap salah satu petugas kami harus melakukan komunikasi, kordinasi dan izin kepada dirinya selaku Kepala Lapas Tarakan.

"Negara kita ini adalah negara hukum seharusnya diutamakan praduga tidak bersalah (Presumption of Innocence)  bukan melakukan tidak secara manusiawi itu merupakan pelanggran HAM"sesalnya.

Fernando juga menanyakan hal serupa kepada Kepala BNN Tarakan Dr. Hj. Agus Surya Dewi, Mengapa pihaknya langsung menuding petugasnya sebagai tersangka. "Kecuali kalau tadi sudah ada pemeriksaan lebih lanjut dengan barang tersebut" tambahnya lagi.

“Ini pelanggaran HAM, praduga tak bersalah dan termasuk penculikan ini. Kecuali ada barang bukti (BB), lalu di HP nya ada komunikasi sudah ada apa tidak, ini tidak ada sama sekali,” tegasnya.


Terkait masalah penangkapan ini, dirinya sudah mendapatkan surat dari BNN bahwa HD berstatuskan tersangka. Ketika dikonfirmasi oleh Suara Kaltara, Kepala BNN Tarakan Dr. Hj. Agus Surya Dewi menolak untuk ditemui oleh awak media dengan alasan masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. (JEF)

No comments