Social Items

Donor darah (foto: ilustrasi/internet)
SUARAKALTARA.com, TARAKAN - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tarakan, KH Muhammad Anas mengatakan, aktivitas donor darah tidak akan membatalkan puasa bagi orang yang berpuasa.

Anas menjelaskan, para ulama berpendapat bahwa donor darah dapat dilakukan oleh umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Sehingga melakukan donor darah ketika berpuasa hukumnya mubah, meski sebagian ulama lainnyaberpendapat hukumnya makruh.

“Tetapi tidak ada ulama yang mengatakan donor darah ketika sedang berpuasa akibatnya membatalkan puasanya,” kata Anas seperti disunting dari Prokal.co, Rabu (7/6/2017).

Anas bahkan beranggapan, donor darah yang dilakukan umat muslim yang sedang berpuasa hukumnya menjadi sunnah hanya pada kasus-kasus tertentu atau darurat. Semisal, ada pasien yang sedang sangat membutuhkan darah sehingga harus ada yang mendonorkan darahnya.

“Untuk keadaan yang sifatnya emergency dan tidak bisa ditunda-tunda,” tutur Anas.

Menurut Anas, jika kasusnya seperti itu maka hukumnya tidak lagi mubah melainkan sunnah, bahkan mungkin menjadi wajib sehingga mendapatkan pahal. Namun yang menjadi permasalahan serta perdebatan di kalangan ulama adalah benda yang masuk ke dalam anggota tubuh seseorang yang sedang berpuasa dan bukan darah yang didonorkan.

Contohnya, seseorang meminta suntikan zat tertentu agar tidak mudah merasa lapar. “Justru kalau itu makruh hukumnya,” ujar Anas.

Anas menyarankan kepada umat Islam yang sedang berpuasa dapat melakukan donor darah pada waktu malam hari seusai melaksanakan salat sunah Tarawih. Dan harus menyesuaikan dengan kantor Palan Merah Indonesia (PMI) selaku pihak resmi donor darah.

“Tergantung situasi dan kondisinya,” kata Anas.

Pendapat orang nomor satu di MUI Tarakan inipun dibenarkan dan dikuatkan oleh Kepala Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Tarakan, dr Edi Samodro.

Edi mengungkapkan, meskipun sedang berpuasa, secara medis masyarakat masih bisa melakukan donor darah. Namun tetap ada beberapa syarat yang harus diperhatikan di antaranya yang paling utama yakni, calon pendonor perlu memperhatikan kesehatan diri sendiri sebelum melakukan donor darah.

“Masyarakat tetap dapat melakukan donor darah asalkan fit dan kuat,” ujarnya.

Secara umum, syarat seseorang dapat menjadi pendonor darah adalah berusia antara 17-60 tahun, memiliki berat badan minimal 45 kg, serta memiliki tekanan darah yang baik. Selain itu calon pendonor wajib terlebih dahulu mengikuti prosedur yang ada di PMI cabang Tarakan, baik pemeriksaan secara administrasi maupun pemeriksaan secara medis.

“Yang utama sehat dan tensinya bagus. Disarankan umat Islam pada bulan Ramadan kali ini untuk donor darah waktu malam hari, yaitu ketika sudah berbuka puasa,” ujarnya.

(prokal/izo)

Kata Ketua MUI Tarakan, Donor Darah Tidak Membatalkan Ibadah Puasa, Malah Bisa Sunnah

SUARA KALTARA
Donor darah (foto: ilustrasi/internet)
SUARAKALTARA.com, TARAKAN - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tarakan, KH Muhammad Anas mengatakan, aktivitas donor darah tidak akan membatalkan puasa bagi orang yang berpuasa.

Anas menjelaskan, para ulama berpendapat bahwa donor darah dapat dilakukan oleh umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Sehingga melakukan donor darah ketika berpuasa hukumnya mubah, meski sebagian ulama lainnyaberpendapat hukumnya makruh.

“Tetapi tidak ada ulama yang mengatakan donor darah ketika sedang berpuasa akibatnya membatalkan puasanya,” kata Anas seperti disunting dari Prokal.co, Rabu (7/6/2017).

Anas bahkan beranggapan, donor darah yang dilakukan umat muslim yang sedang berpuasa hukumnya menjadi sunnah hanya pada kasus-kasus tertentu atau darurat. Semisal, ada pasien yang sedang sangat membutuhkan darah sehingga harus ada yang mendonorkan darahnya.

“Untuk keadaan yang sifatnya emergency dan tidak bisa ditunda-tunda,” tutur Anas.

Menurut Anas, jika kasusnya seperti itu maka hukumnya tidak lagi mubah melainkan sunnah, bahkan mungkin menjadi wajib sehingga mendapatkan pahal. Namun yang menjadi permasalahan serta perdebatan di kalangan ulama adalah benda yang masuk ke dalam anggota tubuh seseorang yang sedang berpuasa dan bukan darah yang didonorkan.

Contohnya, seseorang meminta suntikan zat tertentu agar tidak mudah merasa lapar. “Justru kalau itu makruh hukumnya,” ujar Anas.

Anas menyarankan kepada umat Islam yang sedang berpuasa dapat melakukan donor darah pada waktu malam hari seusai melaksanakan salat sunah Tarawih. Dan harus menyesuaikan dengan kantor Palan Merah Indonesia (PMI) selaku pihak resmi donor darah.

“Tergantung situasi dan kondisinya,” kata Anas.

Pendapat orang nomor satu di MUI Tarakan inipun dibenarkan dan dikuatkan oleh Kepala Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Tarakan, dr Edi Samodro.

Edi mengungkapkan, meskipun sedang berpuasa, secara medis masyarakat masih bisa melakukan donor darah. Namun tetap ada beberapa syarat yang harus diperhatikan di antaranya yang paling utama yakni, calon pendonor perlu memperhatikan kesehatan diri sendiri sebelum melakukan donor darah.

“Masyarakat tetap dapat melakukan donor darah asalkan fit dan kuat,” ujarnya.

Secara umum, syarat seseorang dapat menjadi pendonor darah adalah berusia antara 17-60 tahun, memiliki berat badan minimal 45 kg, serta memiliki tekanan darah yang baik. Selain itu calon pendonor wajib terlebih dahulu mengikuti prosedur yang ada di PMI cabang Tarakan, baik pemeriksaan secara administrasi maupun pemeriksaan secara medis.

“Yang utama sehat dan tensinya bagus. Disarankan umat Islam pada bulan Ramadan kali ini untuk donor darah waktu malam hari, yaitu ketika sudah berbuka puasa,” ujarnya.

(prokal/izo)

No comments