Social Items

Hajatan (foto: ilustrasi/internet)
SUARAKALTARA.com, NUNUKAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nunukan menyoroti kasus keracunan massal yang terjadi di salah satu hajatan masyarakat pada Mei lalu. Kasus tersebut membuktikan masih lemahnya pengawasan makanan atau bahan makanan yang dikonsumsi masyarakat.

Setelah memastikan penyebab keracunan massal berasal dari bahan makanan, yakni berupa daging yang dikonsumsi pengunjung di pesta hajatan tersebut, Dinkes Nunukan akhirnya mengeluarkan surat imbauan kepada masyarakat.

Dalam imbauan tersebut, masyarakat yang ingin melakukan pesta hajatan diminta untuk melapor ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat untuk dilakukan pemeriksaan terhadap bahan makanan yang ingin digunakan. Khususnya untuk daging sapi dan ayam.

“Iya, kami tidak mau kecolongan lagi. Makanya, setiap masyarakat yang mau hajatan, silakan melapor dulu. Bisa ke Puskesmas saja atau langsung ke kami (Dinkes) saja. Segera ditindaklanjuti,” kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) pada Dinkes Nunukan Hj. Ramsidah SKM kepada suarakaltara.com, Rabu (7/6/2017).

Ramsidah mengatakan, imbauan yang diberikan ini merupakan bentuk antisipasi dini agar masyarakat tak menjadi korban oknum yang sengaja hanya mencari keuntungan namun tak memikirkan kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Selain untuk kesehatan, hal ini juga memberikan kepastian kepada seluruh tamu undangan yang hadir jika sajian makanan yang disajikan aman dikonsumsi.

“Sebelum melakukan hajatan itu, pemilik hajatan bersama tukang masaknya melaporkan ke kami atau ke Puskesmas terdekat,” ungkap Ramsidah.

Menurutnya, bahan makanan yang dipersiapkan untuk konsumsi para tamu di setiap hajatan di masyarakat selama ini kurang perhatian. Apalagi sampai dipantau.

Sehingga, celah terjadinya keracunan tinggi. Apalagi jika proses pengolahan yang dilakukan secara gotong royong.

“Yang dikhawatirkan itu bahan mentahnya saja. Jadi, ada pemeriksaan sebelum diolah. Nah, jika dikemudian hari tetap saja terjadi keracunan, artinya bakteri yang itu ada ketika proses memasak. Yang diimbau ini, sebelum diolah. Karena, sangat rentan saat itu,” jelas Ramsidah.

(she)

Orang Nunukan Mau Gelar Hajatan Harus Lapor ke Dinkes, Soalnya Takut...

SUARA KALTARA
Hajatan (foto: ilustrasi/internet)
SUARAKALTARA.com, NUNUKAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nunukan menyoroti kasus keracunan massal yang terjadi di salah satu hajatan masyarakat pada Mei lalu. Kasus tersebut membuktikan masih lemahnya pengawasan makanan atau bahan makanan yang dikonsumsi masyarakat.

Setelah memastikan penyebab keracunan massal berasal dari bahan makanan, yakni berupa daging yang dikonsumsi pengunjung di pesta hajatan tersebut, Dinkes Nunukan akhirnya mengeluarkan surat imbauan kepada masyarakat.

Dalam imbauan tersebut, masyarakat yang ingin melakukan pesta hajatan diminta untuk melapor ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat untuk dilakukan pemeriksaan terhadap bahan makanan yang ingin digunakan. Khususnya untuk daging sapi dan ayam.

“Iya, kami tidak mau kecolongan lagi. Makanya, setiap masyarakat yang mau hajatan, silakan melapor dulu. Bisa ke Puskesmas saja atau langsung ke kami (Dinkes) saja. Segera ditindaklanjuti,” kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) pada Dinkes Nunukan Hj. Ramsidah SKM kepada suarakaltara.com, Rabu (7/6/2017).

Ramsidah mengatakan, imbauan yang diberikan ini merupakan bentuk antisipasi dini agar masyarakat tak menjadi korban oknum yang sengaja hanya mencari keuntungan namun tak memikirkan kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Selain untuk kesehatan, hal ini juga memberikan kepastian kepada seluruh tamu undangan yang hadir jika sajian makanan yang disajikan aman dikonsumsi.

“Sebelum melakukan hajatan itu, pemilik hajatan bersama tukang masaknya melaporkan ke kami atau ke Puskesmas terdekat,” ungkap Ramsidah.

Menurutnya, bahan makanan yang dipersiapkan untuk konsumsi para tamu di setiap hajatan di masyarakat selama ini kurang perhatian. Apalagi sampai dipantau.

Sehingga, celah terjadinya keracunan tinggi. Apalagi jika proses pengolahan yang dilakukan secara gotong royong.

“Yang dikhawatirkan itu bahan mentahnya saja. Jadi, ada pemeriksaan sebelum diolah. Nah, jika dikemudian hari tetap saja terjadi keracunan, artinya bakteri yang itu ada ketika proses memasak. Yang diimbau ini, sebelum diolah. Karena, sangat rentan saat itu,” jelas Ramsidah.

(she)

No comments