Social Items

(Foto:Ilustrasi)

SUARAKALTARA.com,NUNUKAN – Stok obat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan menipis. Setiap pasien yang ingin mendapatkan obat, khususnya bagi pasien stroke dan penyakit rawat jalan terpaksa dibatasi. Bagi pasien yang membutuhkan obat lebih, pasien harus membeli obat di luar apotek rumah sakit. Hal ini terjadi sejak sepekan lalu.  

Informasi yang diterima SuaraKaltara.com, minimnya persediaan obat ini diduga imbas dari adanya utang piutang pihak RSUD Nunukan dengan pihak distributor obat pada 2016 lalu hingga miliaran rupiah. Akibatnya, pasokan obat dihentikan pihak distributor hingga tunggakan diselesaikan. “Informasinya begitu. rumah sakit lagi berutang, makanya yang ditempati minta obat sudah tidak mau kirim,” ungkap sumber terpercaya pada SuaraKaltara.com.

Bahkan, lanjutnya, untuk menutupi kebutuhan pasien saat ini, pihak RSUD Nunukan mendapatkan pasokan dari sejumlah apotek yang ada di Kabupaten Nunukan. Sebab, jika berharap kedatangan obat yang dipesan, kemungkinan pasien harus menunggu lama lagi.

Asmah (29) warga Kelurahan Nunukan Timur yang sejak 5 bulan terakhir mengambil obat untuk orangtuanya yang sedang proses penyembuhan penyakit strok membenarkan pembatasan obat tersebut. Ia mengaku heran ketika diberikan obat hanya untuk jatah 10 hari. “Saya biasanya dikasih obat untuk sebulan. Tapi, kali ini hanya diberikan untuk 10 hari. Terus, pasien lain yang biasanya untuk 10 hari kini hanya 3 hari saja,” ungkapnya kepada Radar Nunukan, kemarin.

Ia mengatakan, sebagai pasien dirinya hanya bisa menerima. Sebab, setelah ditanyakan, petugas hanya memberikan penjelasan singkat. Sehingga pihaknya tidak dapat berbuat banyak. “Mau sampai kapan begini. Kami sebagai masyarakat sebenarnya tidak mau tahu obat itu harus diutang atau bagaimana. Yang jelas, kami butuh pelayanan saja. Kalau masih dikurang jatahnya mungkin masih bisa kami mengerti, tapi kalau tidak ada. Itu yang repot,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Bidang Pengembangan dan Kemitraan RSUD Nunukan, Khairil membenarkan hal tersebut. Ia menjelaskan, pembatasan yang dilakukan ini hanya untuk mengantisipasi ketersediaan obat yang ada saat ini. Sebab, obat yang dipesan memang belum tiba karena adanya keterlambatan dari pihak ekspedisi. “Karena stoknya terbatas, makanya dilakukan pembatasan agar semua pasien dapat,” ungkapnya kepada Radar Nunukan saat dihubungi kemarin.

Diungkapkan, pembatasan pengambil obat ini dipastikan hanya berlaku beberapa hari saja. Untuk pekan depan, pesanan obatnya sudah datang berdasarkan jadwal yang diterima. Jadi, pembagian obatnya sudah kembali normal. “Memang ada beberapa obat yang belum sempat terkirim. Kami lakukan pembatasan itu juga untuk menjaga stok obat yang ada. Jangan sampai habis sebelum obat yang dipesan datang,” ujarnya.

Dikatakan, keterlambatan pengiriman ini diduga akibat menjelang libur lebaran. Jadi, terjadi peningkatan pengiriman barang di ekspedisi. Dijelaskan, selama ini memang kendalanya hanya pada ekspedisi pengiriman. Sebab, wilayah perbatasan, alat transportasi sangat terbatas. Sehingga, jarak tempuh pengiriman membutuhkan waktu. “Tapi, misalnya pasien yang telah diberikan untuk jatah 10 hari habis, silakan kembali mengambil obat lagi. Tetap disiapkan. Ketersedian obat itu hingga pekan depan sebenarnya,” pungkasnya. (she)

Stok Menipis, Obat di RSUD Dibatasi

SUARA KALTARA
(Foto:Ilustrasi)

SUARAKALTARA.com,NUNUKAN – Stok obat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan menipis. Setiap pasien yang ingin mendapatkan obat, khususnya bagi pasien stroke dan penyakit rawat jalan terpaksa dibatasi. Bagi pasien yang membutuhkan obat lebih, pasien harus membeli obat di luar apotek rumah sakit. Hal ini terjadi sejak sepekan lalu.  

Informasi yang diterima SuaraKaltara.com, minimnya persediaan obat ini diduga imbas dari adanya utang piutang pihak RSUD Nunukan dengan pihak distributor obat pada 2016 lalu hingga miliaran rupiah. Akibatnya, pasokan obat dihentikan pihak distributor hingga tunggakan diselesaikan. “Informasinya begitu. rumah sakit lagi berutang, makanya yang ditempati minta obat sudah tidak mau kirim,” ungkap sumber terpercaya pada SuaraKaltara.com.

Bahkan, lanjutnya, untuk menutupi kebutuhan pasien saat ini, pihak RSUD Nunukan mendapatkan pasokan dari sejumlah apotek yang ada di Kabupaten Nunukan. Sebab, jika berharap kedatangan obat yang dipesan, kemungkinan pasien harus menunggu lama lagi.

Asmah (29) warga Kelurahan Nunukan Timur yang sejak 5 bulan terakhir mengambil obat untuk orangtuanya yang sedang proses penyembuhan penyakit strok membenarkan pembatasan obat tersebut. Ia mengaku heran ketika diberikan obat hanya untuk jatah 10 hari. “Saya biasanya dikasih obat untuk sebulan. Tapi, kali ini hanya diberikan untuk 10 hari. Terus, pasien lain yang biasanya untuk 10 hari kini hanya 3 hari saja,” ungkapnya kepada Radar Nunukan, kemarin.

Ia mengatakan, sebagai pasien dirinya hanya bisa menerima. Sebab, setelah ditanyakan, petugas hanya memberikan penjelasan singkat. Sehingga pihaknya tidak dapat berbuat banyak. “Mau sampai kapan begini. Kami sebagai masyarakat sebenarnya tidak mau tahu obat itu harus diutang atau bagaimana. Yang jelas, kami butuh pelayanan saja. Kalau masih dikurang jatahnya mungkin masih bisa kami mengerti, tapi kalau tidak ada. Itu yang repot,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Bidang Pengembangan dan Kemitraan RSUD Nunukan, Khairil membenarkan hal tersebut. Ia menjelaskan, pembatasan yang dilakukan ini hanya untuk mengantisipasi ketersediaan obat yang ada saat ini. Sebab, obat yang dipesan memang belum tiba karena adanya keterlambatan dari pihak ekspedisi. “Karena stoknya terbatas, makanya dilakukan pembatasan agar semua pasien dapat,” ungkapnya kepada Radar Nunukan saat dihubungi kemarin.

Diungkapkan, pembatasan pengambil obat ini dipastikan hanya berlaku beberapa hari saja. Untuk pekan depan, pesanan obatnya sudah datang berdasarkan jadwal yang diterima. Jadi, pembagian obatnya sudah kembali normal. “Memang ada beberapa obat yang belum sempat terkirim. Kami lakukan pembatasan itu juga untuk menjaga stok obat yang ada. Jangan sampai habis sebelum obat yang dipesan datang,” ujarnya.

Dikatakan, keterlambatan pengiriman ini diduga akibat menjelang libur lebaran. Jadi, terjadi peningkatan pengiriman barang di ekspedisi. Dijelaskan, selama ini memang kendalanya hanya pada ekspedisi pengiriman. Sebab, wilayah perbatasan, alat transportasi sangat terbatas. Sehingga, jarak tempuh pengiriman membutuhkan waktu. “Tapi, misalnya pasien yang telah diberikan untuk jatah 10 hari habis, silakan kembali mengambil obat lagi. Tetap disiapkan. Ketersedian obat itu hingga pekan depan sebenarnya,” pungkasnya. (she)

No comments