Social Items

(Foto: Rizkia/SuaraKaltara) SUKHOI : Mayor Andry "Stellar" Libarsyah mengecek pesawat sukhoi yang akan digunakan untuk memonitor perbatasan dalam operasi ambalat yang dilaksanakan hingga akhir bulan ini.


SUARAKALTARA.com,TARAKAN - Stellar itulah panggilannya jika  sedang berada diudara menari-nari dengan pesawat sukhoi yang sangat ia banggakan. Pria kelahiran Malang, 23 September 1984 ini mempunyai nama lengkap Andry Libarsyah. Berawal dari cita-cita dan motivasi dari sang ayah yang saat itu adalah anggota paskhas ia membulatkan tekat menjadi seorang penerbang. Akhirnya setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), Stellar lalu mencoba peruntungan melalui Akademi Angkatan Udara (AAU) dan lulus tahun 2005.

"Kalau ditanya soal motivasi, ini memang cita-cita saya sejak kecil, kebetulan ayah seorang paskhas dan saya dari kecil diperkenalkan dengan dunia dirgantara dan daerah rumah saya dekat dengan Bandara Abdurahman Saleh di Malang sehingga melihat pesawat takeoff - landing sudah biasa," ujar pria berumur 33 tahun itu.

Mengawali karier di Skadron 14 dengan menerbangkan pesawat F5 Tiger, Stellar lalu mulai mengawali 0 jam bersama Sukhoi pada tahun 2012 dan tepat pada tanggal 10 Juli 2017 ia meraih 1000 jam terbangnya bersama Sukhoi. Banyak hal yang telah ia hadapi dan ia lewati dalam mencapai 1000 jam terbangnya.

Pesawat pertama yang diterbangkan oleh Stellar adalah AS 202 Bravo, lalu T-34C Beechcraft, dan beberapa pesawat lainnya. Pada 2014 Stellar mulai belajar menerbangkan Sukhoi 27 SKM dan mengambil Sekolah Intruktur Penerbang pada tahun 2015 dan menerbangkan KT-1B Wong Bee.

"Saya kembali ke Skuadron 11 pada tahun 2016 dan continue untuk melaksanakan terbang di Skuadron 11," tambahnya.

Pria yang berkediaman di Makassar ini juga merasa spesial pada pencapaian 1000 jam terbangnya kali ini, karena bisa mencapainya pada saat tugas operasi menjaga perbatasan. "Saya merasa pencapaian kali ini lebih spesial, karena biasanya kami berada di Makassar, tapi kali ini saya capai ditengah-tengah tugas menjaga perbatasan," ungkapnya sembari tersenyum.

Keberhasilan yang Stellar capai hingga kini pun tak luput dari dukungan keluarga, istri serta anak semata wayang yang sangat ia sayangi. Saat mencapai 1000 jam terbangnya Stellar berada di Lanud Tarakan, dalam misi mengawasi perairan diambalat terutama pada batas maritim dari udara serta antisipasi akan kelompok radikal ISIS yang berada di Marawi, Philipina. (KIA)




Capai 1000 Jam Terbang, Stellar : Kali Ini Lebih Spesial

SUARA KALTARA
(Foto: Rizkia/SuaraKaltara) SUKHOI : Mayor Andry "Stellar" Libarsyah mengecek pesawat sukhoi yang akan digunakan untuk memonitor perbatasan dalam operasi ambalat yang dilaksanakan hingga akhir bulan ini.


SUARAKALTARA.com,TARAKAN - Stellar itulah panggilannya jika  sedang berada diudara menari-nari dengan pesawat sukhoi yang sangat ia banggakan. Pria kelahiran Malang, 23 September 1984 ini mempunyai nama lengkap Andry Libarsyah. Berawal dari cita-cita dan motivasi dari sang ayah yang saat itu adalah anggota paskhas ia membulatkan tekat menjadi seorang penerbang. Akhirnya setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), Stellar lalu mencoba peruntungan melalui Akademi Angkatan Udara (AAU) dan lulus tahun 2005.

"Kalau ditanya soal motivasi, ini memang cita-cita saya sejak kecil, kebetulan ayah seorang paskhas dan saya dari kecil diperkenalkan dengan dunia dirgantara dan daerah rumah saya dekat dengan Bandara Abdurahman Saleh di Malang sehingga melihat pesawat takeoff - landing sudah biasa," ujar pria berumur 33 tahun itu.

Mengawali karier di Skadron 14 dengan menerbangkan pesawat F5 Tiger, Stellar lalu mulai mengawali 0 jam bersama Sukhoi pada tahun 2012 dan tepat pada tanggal 10 Juli 2017 ia meraih 1000 jam terbangnya bersama Sukhoi. Banyak hal yang telah ia hadapi dan ia lewati dalam mencapai 1000 jam terbangnya.

Pesawat pertama yang diterbangkan oleh Stellar adalah AS 202 Bravo, lalu T-34C Beechcraft, dan beberapa pesawat lainnya. Pada 2014 Stellar mulai belajar menerbangkan Sukhoi 27 SKM dan mengambil Sekolah Intruktur Penerbang pada tahun 2015 dan menerbangkan KT-1B Wong Bee.

"Saya kembali ke Skuadron 11 pada tahun 2016 dan continue untuk melaksanakan terbang di Skuadron 11," tambahnya.

Pria yang berkediaman di Makassar ini juga merasa spesial pada pencapaian 1000 jam terbangnya kali ini, karena bisa mencapainya pada saat tugas operasi menjaga perbatasan. "Saya merasa pencapaian kali ini lebih spesial, karena biasanya kami berada di Makassar, tapi kali ini saya capai ditengah-tengah tugas menjaga perbatasan," ungkapnya sembari tersenyum.

Keberhasilan yang Stellar capai hingga kini pun tak luput dari dukungan keluarga, istri serta anak semata wayang yang sangat ia sayangi. Saat mencapai 1000 jam terbangnya Stellar berada di Lanud Tarakan, dalam misi mengawasi perairan diambalat terutama pada batas maritim dari udara serta antisipasi akan kelompok radikal ISIS yang berada di Marawi, Philipina. (KIA)




No comments