Social Items


(Foto:Dok)

SUARAKALTARA.com,TARAKAN - Kasus sabu-sabu yang menimpa HD seorang sipir Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II a Tarakan telah menjalani sidang pra peradilan. Sebagai agenda dalam sidang yang dilaksanakan di Ruang Sidang Utama, Pengadilan Tinggi Negeri Tarakan adalah pembacaan persepsi dari pengacara HD yaitu Mansyur SH, MH, dan Syafruddin SH, MH.

HD tertangkap tangan setelah menerima sabu dari seorang tersangka lain pada saat bertugas menjaga
pintu utama lapas. Dalam berkas pembelaan yang pagi tadi dibacakan oleh kuasa hukum HD, ada beberapa hal yang ditekankan oleh kuasa hukumnya.

Pertama, pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tarakan, tidak memiliki bukti yang kuat untuk bisa menahan serta menjadikan HD tersangka, sebagaimana telah dituduhkan oleh BNN Tarakan. Lalu, mengenai penangkapan pihak kuasa hukum HD juga menegaskan penangkapan hanya boleh dilakukan oleh pihak kepolisian sesuai peraturan yang berlaku.

"Penangkapan yang dilakukan terhadap saudara HD sengaja dibuat sebagai operasi tangkap tangan, untuk mengkriminalisasi termohon," ungkap salah satu kuasa hukum HD, Masyur.

Selain itu kuasa hukum HD juga menganggap penangkapan yang dilakukan kepada HD tidak sah, karena surat penangkapan muncul sehari setelah HD diringkus dan mendekam dibalik jeruji kantor BNN Tarakan.

Hingga berita ini terbit, BNN masih memilih untuk bungkam. Namun, esok (12/7) sebanyak 10 kuasa hukum BNN akan turun langsung dan menjawab ketidakpuasan atas kasus yang menimpa HD serta menjawab permohonan dari pembela hukum tersangka. Direncanakan, HD juga akan dihadirkan pagi esok untuk dimintai keterangan.

Hakim Ketua persidangan pra peradilan HD, Mahyudin Igo SH. memutuskan sidang yang berlangsung selama satu setengah jam pagi tadi dilanjutkan esok, apalagi 7 dari 10 kuasa hukum pihak BNN masih dalam perjalanan menuju ke Tarakan.

"Baik, sidang hari ini hanya akan membacakan keberatan dari pihak termohon, sidang dilanjutkan besok pukul 10," tutup Igo. (KIA)

Masih Bungkam, BNN Akan Hadirkan 10 Kuasa Hukum Esok!

SUARA KALTARA

(Foto:Dok)

SUARAKALTARA.com,TARAKAN - Kasus sabu-sabu yang menimpa HD seorang sipir Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II a Tarakan telah menjalani sidang pra peradilan. Sebagai agenda dalam sidang yang dilaksanakan di Ruang Sidang Utama, Pengadilan Tinggi Negeri Tarakan adalah pembacaan persepsi dari pengacara HD yaitu Mansyur SH, MH, dan Syafruddin SH, MH.

HD tertangkap tangan setelah menerima sabu dari seorang tersangka lain pada saat bertugas menjaga
pintu utama lapas. Dalam berkas pembelaan yang pagi tadi dibacakan oleh kuasa hukum HD, ada beberapa hal yang ditekankan oleh kuasa hukumnya.

Pertama, pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tarakan, tidak memiliki bukti yang kuat untuk bisa menahan serta menjadikan HD tersangka, sebagaimana telah dituduhkan oleh BNN Tarakan. Lalu, mengenai penangkapan pihak kuasa hukum HD juga menegaskan penangkapan hanya boleh dilakukan oleh pihak kepolisian sesuai peraturan yang berlaku.

"Penangkapan yang dilakukan terhadap saudara HD sengaja dibuat sebagai operasi tangkap tangan, untuk mengkriminalisasi termohon," ungkap salah satu kuasa hukum HD, Masyur.

Selain itu kuasa hukum HD juga menganggap penangkapan yang dilakukan kepada HD tidak sah, karena surat penangkapan muncul sehari setelah HD diringkus dan mendekam dibalik jeruji kantor BNN Tarakan.

Hingga berita ini terbit, BNN masih memilih untuk bungkam. Namun, esok (12/7) sebanyak 10 kuasa hukum BNN akan turun langsung dan menjawab ketidakpuasan atas kasus yang menimpa HD serta menjawab permohonan dari pembela hukum tersangka. Direncanakan, HD juga akan dihadirkan pagi esok untuk dimintai keterangan.

Hakim Ketua persidangan pra peradilan HD, Mahyudin Igo SH. memutuskan sidang yang berlangsung selama satu setengah jam pagi tadi dilanjutkan esok, apalagi 7 dari 10 kuasa hukum pihak BNN masih dalam perjalanan menuju ke Tarakan.

"Baik, sidang hari ini hanya akan membacakan keberatan dari pihak termohon, sidang dilanjutkan besok pukul 10," tutup Igo. (KIA)

No comments