Social Items


SUARAKALTARA.com, JAKARTA – Selain Republik Rakyat Tiongkok (RRT), investor dari Korea Selatan juga mulai banyak yang melirik potensi investasi di Kalimantan Utara (Kaltara). Menyusul Hyundai Group, PT Dragon Land yang merupakan konsorsium antara Pemerintah Korea Selatan dengan investor swasta setempat, juga menyatakan minatnya untuk berinvestasi di Kaltara. Mereka menyasar rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), pengembangan Bandar Udara (Bandara) internasional, dan peluang investasi lain yang ada di Kaltara. 

Membahas minat itu, bertempat di The Retreat Lounge, The Westin Jakarta, Kamis (14/9) malam dilakukan pertemuan awal antara manajemen PT Dragon Land yang diwakili oleh Mr Lim Yong (PT Dragon Land Indonesia) dan Mr Choi Jong Oh (PT Dragon Land Korea) dengan jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara yang dipimpin langsung oleh Gubernur Kaltara Dr Irianto Lambrie. 

Di pertemuan itu, Gubernur memaparkan sejumlah peluang potensi investasi di Kaltara. Mulai Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning-Mangkupadi, PLTA Kayan, pengembangan bandara dan pembangunan bandara baru di sejumlah wilayah di Kaltara, pengembangan pelabuhan sungai, pembangunan konektivitas antara Tarakan-daratan Kalimantan Besar melalui Kabupaten Bulungan (Jembatan Bulan), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), industri smelter, perkebunan dan pertanian, dan lainnya. 

Gubernur juga menjelaskan posisi Kaltara yang terakomodir dalam program One Belt One Road (OBOR) Initiative Indonesia-Tiongkok dengan nilai investasi yang dijanjikan untuk dikucurkan Pemerintah Tiongkok sekitar USD 20 miliar, namun belum disetujui Pemerintah Indonesia karena lebih kecil dari Malaysia (USD 30 M) dan Pakistan (USD 60 M). “Untuk model kesepakatan investasi yang tengah berproses di Kaltara. Sebagian besar, model penanaman modal yang direalisasikan bersifat B to B (Bussines to Bussines). Pemerintah hanya menyediakan lahan, sedangkan untuk pembebasan lahannya menjadi tanggung jawab investor,” urainya. 

Terhadap rencana dan minat investasi dari PT Dragon Land sendiri, Gubernur mengaku sangat menghargai dan berharap dapat berlanjut dengan pertemuan teknis hingga melakukan penandatanganan nota kesepahaman. Bahkan, sangat besar harapan, dapat terealisasi dengan pembangunan fisiknya. 

Pun demikian, Gubernur dan jajarannya tetap memiliki keterbatasan dalam hal kewenangan. Untuk itu, dalam pertemuan awal ini tidak ada dokumen apapun yang diteken kedua belah pihak. 

Irianto menegaskan pentingnya berkoordinasi dengan pihak kementerian terkait utamanya Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang Kemaritiman yang ditugaskan khusus mengawal percepatan realisasi proyek strategis nasional di Indonesia. Juga perlu berkomunikasi intensif dengan Pemerintah Daerah terkait. “Dokumen kesepakatan yang disiapkan PT Dragon Land akan kami pelajari terlebih dahulu, dan dikomunikasi dengan kementerian terkait juga pemerintah daerah,” jelas Irianto. 

Gubernur juga mengingatkan akan pentingnya keseriusan dari investor dan kepatuhannya terhadap hukum yang berlaku di Indonesia. “Saya secara khusus menginginkan sebuah langkah yang cepat, realistis dan fokus. Untuk itu, dalam realisasi kedepan terhadap minat PT Dragon Land ini, kami akan menyiapkan berbagai hal yang dibutuhkan mereka. Ini menjadi bahan pertimbangan bagi mereka untuk menetapkan akan berinvestasi dimana, berapa nilai investasinya dan lainnya,” ulas Gubernur. Sementara untuk memenuhi kebutuhan rencana investasi ini, Gubernur telah menunjuk tim kerja untuk menyusun list potensi investasi di Kaltara. Yakni, Kepala DPUTR-Perkim, Kepala DPMPTSP dan Kepala Bappeda. 

Sementara itu, Mr Lim Yong dari PT Dragon Land Indonesia menuturkan, pihaknya siap berinvestasi di Kaltara. “Jika ada kekurangan atau hal yang dapat kami bantu untuk pengembangan PLTA, kawasan industri atau rencana investasi lainnya, kami siap. Karena kami mengumpulkan cukup banyak pemodal baik dari Pemerintah Korea Selatan maupun mitra swasta disana,” kata Lim. 

Setidaknya, ada 30 pemodal asal Korea Selatan siap difasilitasi PT Dragon Land untuk berinvestasi di Kaltara. “Khusus bandara internasional, kami sangat expert dalam pengembangan maupun pembangunan bandara sekelas itu. Teknologi bandara internasional yang kami kembangkan di Korea juga negara lain yang ada investasi kami, kelak akan diterapkan di bandara internasional di Kaltara. Kami juga akan memasukkan pesawat ke bandara tersebut,” tuntasnya.(Humas/RisK)

Dragon Land Minati Investasi PLTA dan Bandara di Kaltara

SUARA KALTARA

SUARAKALTARA.com, JAKARTA – Selain Republik Rakyat Tiongkok (RRT), investor dari Korea Selatan juga mulai banyak yang melirik potensi investasi di Kalimantan Utara (Kaltara). Menyusul Hyundai Group, PT Dragon Land yang merupakan konsorsium antara Pemerintah Korea Selatan dengan investor swasta setempat, juga menyatakan minatnya untuk berinvestasi di Kaltara. Mereka menyasar rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), pengembangan Bandar Udara (Bandara) internasional, dan peluang investasi lain yang ada di Kaltara. 

Membahas minat itu, bertempat di The Retreat Lounge, The Westin Jakarta, Kamis (14/9) malam dilakukan pertemuan awal antara manajemen PT Dragon Land yang diwakili oleh Mr Lim Yong (PT Dragon Land Indonesia) dan Mr Choi Jong Oh (PT Dragon Land Korea) dengan jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara yang dipimpin langsung oleh Gubernur Kaltara Dr Irianto Lambrie. 

Di pertemuan itu, Gubernur memaparkan sejumlah peluang potensi investasi di Kaltara. Mulai Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning-Mangkupadi, PLTA Kayan, pengembangan bandara dan pembangunan bandara baru di sejumlah wilayah di Kaltara, pengembangan pelabuhan sungai, pembangunan konektivitas antara Tarakan-daratan Kalimantan Besar melalui Kabupaten Bulungan (Jembatan Bulan), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), industri smelter, perkebunan dan pertanian, dan lainnya. 

Gubernur juga menjelaskan posisi Kaltara yang terakomodir dalam program One Belt One Road (OBOR) Initiative Indonesia-Tiongkok dengan nilai investasi yang dijanjikan untuk dikucurkan Pemerintah Tiongkok sekitar USD 20 miliar, namun belum disetujui Pemerintah Indonesia karena lebih kecil dari Malaysia (USD 30 M) dan Pakistan (USD 60 M). “Untuk model kesepakatan investasi yang tengah berproses di Kaltara. Sebagian besar, model penanaman modal yang direalisasikan bersifat B to B (Bussines to Bussines). Pemerintah hanya menyediakan lahan, sedangkan untuk pembebasan lahannya menjadi tanggung jawab investor,” urainya. 

Terhadap rencana dan minat investasi dari PT Dragon Land sendiri, Gubernur mengaku sangat menghargai dan berharap dapat berlanjut dengan pertemuan teknis hingga melakukan penandatanganan nota kesepahaman. Bahkan, sangat besar harapan, dapat terealisasi dengan pembangunan fisiknya. 

Pun demikian, Gubernur dan jajarannya tetap memiliki keterbatasan dalam hal kewenangan. Untuk itu, dalam pertemuan awal ini tidak ada dokumen apapun yang diteken kedua belah pihak. 

Irianto menegaskan pentingnya berkoordinasi dengan pihak kementerian terkait utamanya Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang Kemaritiman yang ditugaskan khusus mengawal percepatan realisasi proyek strategis nasional di Indonesia. Juga perlu berkomunikasi intensif dengan Pemerintah Daerah terkait. “Dokumen kesepakatan yang disiapkan PT Dragon Land akan kami pelajari terlebih dahulu, dan dikomunikasi dengan kementerian terkait juga pemerintah daerah,” jelas Irianto. 

Gubernur juga mengingatkan akan pentingnya keseriusan dari investor dan kepatuhannya terhadap hukum yang berlaku di Indonesia. “Saya secara khusus menginginkan sebuah langkah yang cepat, realistis dan fokus. Untuk itu, dalam realisasi kedepan terhadap minat PT Dragon Land ini, kami akan menyiapkan berbagai hal yang dibutuhkan mereka. Ini menjadi bahan pertimbangan bagi mereka untuk menetapkan akan berinvestasi dimana, berapa nilai investasinya dan lainnya,” ulas Gubernur. Sementara untuk memenuhi kebutuhan rencana investasi ini, Gubernur telah menunjuk tim kerja untuk menyusun list potensi investasi di Kaltara. Yakni, Kepala DPUTR-Perkim, Kepala DPMPTSP dan Kepala Bappeda. 

Sementara itu, Mr Lim Yong dari PT Dragon Land Indonesia menuturkan, pihaknya siap berinvestasi di Kaltara. “Jika ada kekurangan atau hal yang dapat kami bantu untuk pengembangan PLTA, kawasan industri atau rencana investasi lainnya, kami siap. Karena kami mengumpulkan cukup banyak pemodal baik dari Pemerintah Korea Selatan maupun mitra swasta disana,” kata Lim. 

Setidaknya, ada 30 pemodal asal Korea Selatan siap difasilitasi PT Dragon Land untuk berinvestasi di Kaltara. “Khusus bandara internasional, kami sangat expert dalam pengembangan maupun pembangunan bandara sekelas itu. Teknologi bandara internasional yang kami kembangkan di Korea juga negara lain yang ada investasi kami, kelak akan diterapkan di bandara internasional di Kaltara. Kami juga akan memasukkan pesawat ke bandara tersebut,” tuntasnya.(Humas/RisK)

No comments