Social Items

(Foto:LLY) DEMO: Karyawan PT IDEC AWI yang Melakukan Orasi Menuntut Haknya didepan Polres Tarakan.


SUARAKALTARA.com,TARAKAN - Puluhan pekerja PT Idec Abadi Wood Industries yang juga tergabung dalam Serikat Pekerja Perkayuan dan Perhutanan Indonesia Tarakan secara tiba-tiba mendatangi Polres Tarakan sekira pukul 08.00 Wita, kemarin (6/9).
Kali ini, pihaknya menuntut agar pihak kepolisian bisa mengusut tuntas dugaan korupsi dari Manager Koperasi PT Idec AWI yakni Ambo Bahri.

Saat dikonfirmasi, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi demo, Suparyanto mengatakan,sekitar 2 tahun yang lalu, dirinya bersama karyawan lain meminjam uang pada koperasi tersebut dengan jaminan menggadaikan sertifikat tanah. Namun setelah dilunasi, sertifikat tanah tersebut tak kunjung dikembalikan. “
"Kami ini menuntut hak kami dan masih ada 4 serifikat lain yang masih tertahan. Totalnya ada 12 sertifikat tanah,” ungkapnya, Rabu (6/9).

Lanjut Suparyanto, dirinya menyesalkan bahwa Kepala Pertokoan Koperasi PT Idec AWI, bernama Emang yang sempat dijadikan tersangka sudah ditangguhkan oleh penasehat hukumnya (PH). Dia juga berharap pada kepolisian agar kembali mengaudit koperasi tersebut. “Jadi masalahnya apa sampai si Emang ini ditangguhkan. Memang masa tahanannya sudah habis, dan juga sudah terduga mengkorupsi dana Rp 15 miliar. Semua dana yang dikorupsi Rp 27 miliar. Kami tidak bertele-tele, hak kami saja yang kami tuntut,” ujarnya kesal.

Sementara itu Ketua PUK SP Kahutindo, Zainal Abidin menegaskan, dirinya yang juga menjadi korban atas kasus korupsi pihak koperasi menuntut agar kasus yang sudah berjalan hampir satu tahun belum dapat kejelasan. Dalam arti, pihaknya yang sudah mengumpulkan barang bukti dan saksi-saksi, sampai saat ini belum ada penetapan tersangka oleh Ambo Bahri dan Memang. “Itu yang kami tuntut. Bahkan 2 hari yang lalu saya kesini belum juga ada realisasinya,” terang Zainal.

Dijelaskannya, penyelewengan dana oleh pihak koperasi sebesar Rp 27 miliar, menurutnya sudah jelas melanggar hukum pidana yakni tindak pidana penggelapan dalam jabatan dan tindak pidana pencucian uang. Jika penyidik kooperatif dengan menetapkan tersangka baru, maka pihaknya tidak akan turun kejalan. “Penyidik selalu menjanjikan kami, tapi tidak ada hasil sampai sekarang. Dana miliaran tadi terdiri dari dana koperasi, pertokoan, bank,” tutur Zainal.

Berkas yang belum dinyatakan lengkap (P21) oleh Pengadilan Negeri (PN) Tarakan menjadikan tersangka tersebut masih bisa berkeliaran bebas. Pihaknya yang sudah mendapat klarifikasi dari kepolisian, ternyata ada poin-poin yang menyendat di PN Tarakan. “Makanya belum ada P21. parahnya penyidik melimpahkan P18 tanpa dibarengi P19,” kata Zainal.

Ditempat yang sama, PH dari karyawan PT Idec AWI, Darwis Manurung menuturkan, ada beberapa poin yang sudah dibicarakan bersama penyidik. Pertama, dalam minggu ini penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrin) Polres Tarakan akan mengusahakan berkas perkara bisa P21 dan masuk ketahap dua. Kedua, jika sudah memasuki tahap. Kedua, maka penyidik akan mengeluarkan rencana penetapan tersangka baru.

“Ketiga, 4 sertifikat tanah yang masih tertahan, akan dibuatkan permohonan pinjam pakai. Setelah datang Kapolres, maka akan diselesaikan. Kami juga akan mengawasi penenuhan pinjam pakai itu. Nanti kami jua akan mengawasi Kejari Tarakan,” tegasnya.

Di sisi lain,  Kapolres Tarakan AKBP Dearystone Supit melalui Paur Subbag Humas, Ipda Denny Mardyanto mengaku butuh waktu lama untuk melengkapi berkas penyidikan tersebut. Penyelidikan polisi yang sudah mengerucut ke penggelapan dalam jabatan di unit pertokoan, namun penyidik memastikan unit lainnya juga dalam tahap penyelidikan dan pengumpulan barang bukti. “Kami kerucutkan dulu ke yang mudah, kalau mengarah ke koperasinya kami belum bisa totalin, kan besar dan banyak orang didalamnya. Berkasnya saja sampai kami simpan didalam kardus besar, karena banyaknya itu. Makanya kami kerjakan yang mudah dengan tersangka Emang sebagai Kepala Unit Pertokoan dan kerugiannya sampai Rp 4 miliar,” bebernya.

Peran Emang ini, lanjut Ipda Deny sebagai kepala unit pertokoan membuat laporan keuangan fiktif, modusnya menggelapkan uang dengan cara menaikkan harga yang dijual dengan yang dilaporan, memanipulasi kwitansi penjualan sejak tahun 2011.
“Ada sebagian yang di mark up harganya, seperti ada bon barang yang dijual di koperasi atau pengadaan barang dia hilangkan dan buat bon sendiri dengan harga lebih tinggi dan sebagian fiktif,” tuturnya Ipda Denny.

Emang sendiri sempat menjadi tahanan di Rutan Polres Tarakan, namun karena masa tahanan habis akhirnya dibebaskan demi hukum. Menurutnya, rumitnya perkara karena uang yang berputar juga ada uang ratusan bahkan ribuan orang karyawan PT Idec yang tergabung dalam Koperasi.(lly/kia)

Sertifikat Tanah Tak Kunjung Kembali, Karyawan IDEC Demo Polres

SUARA KALTARA
(Foto:LLY) DEMO: Karyawan PT IDEC AWI yang Melakukan Orasi Menuntut Haknya didepan Polres Tarakan.


SUARAKALTARA.com,TARAKAN - Puluhan pekerja PT Idec Abadi Wood Industries yang juga tergabung dalam Serikat Pekerja Perkayuan dan Perhutanan Indonesia Tarakan secara tiba-tiba mendatangi Polres Tarakan sekira pukul 08.00 Wita, kemarin (6/9).
Kali ini, pihaknya menuntut agar pihak kepolisian bisa mengusut tuntas dugaan korupsi dari Manager Koperasi PT Idec AWI yakni Ambo Bahri.

Saat dikonfirmasi, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi demo, Suparyanto mengatakan,sekitar 2 tahun yang lalu, dirinya bersama karyawan lain meminjam uang pada koperasi tersebut dengan jaminan menggadaikan sertifikat tanah. Namun setelah dilunasi, sertifikat tanah tersebut tak kunjung dikembalikan. “
"Kami ini menuntut hak kami dan masih ada 4 serifikat lain yang masih tertahan. Totalnya ada 12 sertifikat tanah,” ungkapnya, Rabu (6/9).

Lanjut Suparyanto, dirinya menyesalkan bahwa Kepala Pertokoan Koperasi PT Idec AWI, bernama Emang yang sempat dijadikan tersangka sudah ditangguhkan oleh penasehat hukumnya (PH). Dia juga berharap pada kepolisian agar kembali mengaudit koperasi tersebut. “Jadi masalahnya apa sampai si Emang ini ditangguhkan. Memang masa tahanannya sudah habis, dan juga sudah terduga mengkorupsi dana Rp 15 miliar. Semua dana yang dikorupsi Rp 27 miliar. Kami tidak bertele-tele, hak kami saja yang kami tuntut,” ujarnya kesal.

Sementara itu Ketua PUK SP Kahutindo, Zainal Abidin menegaskan, dirinya yang juga menjadi korban atas kasus korupsi pihak koperasi menuntut agar kasus yang sudah berjalan hampir satu tahun belum dapat kejelasan. Dalam arti, pihaknya yang sudah mengumpulkan barang bukti dan saksi-saksi, sampai saat ini belum ada penetapan tersangka oleh Ambo Bahri dan Memang. “Itu yang kami tuntut. Bahkan 2 hari yang lalu saya kesini belum juga ada realisasinya,” terang Zainal.

Dijelaskannya, penyelewengan dana oleh pihak koperasi sebesar Rp 27 miliar, menurutnya sudah jelas melanggar hukum pidana yakni tindak pidana penggelapan dalam jabatan dan tindak pidana pencucian uang. Jika penyidik kooperatif dengan menetapkan tersangka baru, maka pihaknya tidak akan turun kejalan. “Penyidik selalu menjanjikan kami, tapi tidak ada hasil sampai sekarang. Dana miliaran tadi terdiri dari dana koperasi, pertokoan, bank,” tutur Zainal.

Berkas yang belum dinyatakan lengkap (P21) oleh Pengadilan Negeri (PN) Tarakan menjadikan tersangka tersebut masih bisa berkeliaran bebas. Pihaknya yang sudah mendapat klarifikasi dari kepolisian, ternyata ada poin-poin yang menyendat di PN Tarakan. “Makanya belum ada P21. parahnya penyidik melimpahkan P18 tanpa dibarengi P19,” kata Zainal.

Ditempat yang sama, PH dari karyawan PT Idec AWI, Darwis Manurung menuturkan, ada beberapa poin yang sudah dibicarakan bersama penyidik. Pertama, dalam minggu ini penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrin) Polres Tarakan akan mengusahakan berkas perkara bisa P21 dan masuk ketahap dua. Kedua, jika sudah memasuki tahap. Kedua, maka penyidik akan mengeluarkan rencana penetapan tersangka baru.

“Ketiga, 4 sertifikat tanah yang masih tertahan, akan dibuatkan permohonan pinjam pakai. Setelah datang Kapolres, maka akan diselesaikan. Kami juga akan mengawasi penenuhan pinjam pakai itu. Nanti kami jua akan mengawasi Kejari Tarakan,” tegasnya.

Di sisi lain,  Kapolres Tarakan AKBP Dearystone Supit melalui Paur Subbag Humas, Ipda Denny Mardyanto mengaku butuh waktu lama untuk melengkapi berkas penyidikan tersebut. Penyelidikan polisi yang sudah mengerucut ke penggelapan dalam jabatan di unit pertokoan, namun penyidik memastikan unit lainnya juga dalam tahap penyelidikan dan pengumpulan barang bukti. “Kami kerucutkan dulu ke yang mudah, kalau mengarah ke koperasinya kami belum bisa totalin, kan besar dan banyak orang didalamnya. Berkasnya saja sampai kami simpan didalam kardus besar, karena banyaknya itu. Makanya kami kerjakan yang mudah dengan tersangka Emang sebagai Kepala Unit Pertokoan dan kerugiannya sampai Rp 4 miliar,” bebernya.

Peran Emang ini, lanjut Ipda Deny sebagai kepala unit pertokoan membuat laporan keuangan fiktif, modusnya menggelapkan uang dengan cara menaikkan harga yang dijual dengan yang dilaporan, memanipulasi kwitansi penjualan sejak tahun 2011.
“Ada sebagian yang di mark up harganya, seperti ada bon barang yang dijual di koperasi atau pengadaan barang dia hilangkan dan buat bon sendiri dengan harga lebih tinggi dan sebagian fiktif,” tuturnya Ipda Denny.

Emang sendiri sempat menjadi tahanan di Rutan Polres Tarakan, namun karena masa tahanan habis akhirnya dibebaskan demi hukum. Menurutnya, rumitnya perkara karena uang yang berputar juga ada uang ratusan bahkan ribuan orang karyawan PT Idec yang tergabung dalam Koperasi.(lly/kia)

No comments