Social Items

(Foto:Ist)

SUARAKALTARA.com,TARAKAN – Masyarakat Kota Tarakan harus lebih waspada terhadap peredaran uang palsu. Pasalnya, kemarin (9/9) sekira pukul 09.00 wita, masyarakat Tarakan dihebohkan dengan adanya penemuan uang palsu di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Selumit Pantai. Modus pelaku pengedar uang palsu, dengan cara membeli bensin eceran dipinggir jalan saat jam-jam sibuk kerja.

Saat ditemui, Rahayu yang merupakan korban penerima uang palsu menjelaskan, sekira pukul 09.00 Wita dirinya sedang menjualkan bensin ecerannya kepada salah satu pengendara motor. Lalu, pelaku yang tidak diketahui namanya tersebut sempat berbicara kepada Rahayu bahwa ingin membuka usaha warung makan.

“Jadi pelaku itu modusnya beli bensin dengan uang pecahan Rp 100 ribu," jelas Rahayu saat ditemui di dagangan bensinnya, selasa (5/9).

Lebih lanjut, pelaku pengedar uang palsu berciri-ciri berbadan tinggi besar dengan menggunakan kendaraan jenis Vario warna putih. Namun dia tidak mengetahui plat nomor kendaraan pelaku. Selang beberapa menit pelaku meninggalkan dagangan Rahayu, dia mulai curiga saat hendak menghitung uang hasil penjualan bensin ecerannya. “Saya curiga kok uang ini beda dan lihat benang merahnya kok rata. Lalu gambar di uang pecahan Rp 100.000  tersebut sangat berbeda sama yang asli,” beber Rahayu.

Kemudian setelah itu, ia menerima uang palsu, Rahayu langsung memberitahukan adiknya dengan bersama-sama membawa uang palsu tersebut pada bank yang persis berada di tempat ia berjualan. Namun, dari pihak bank tersebut, tidak mengetahui uang pecahan Rp 100.000 asli atau palsu. Belum menerima kepastian uang tersebut palsu atau tidak, lalu Rahayu menanyakan kepada petugas di PT Pegadaian terdekat. Saat diperiksa oleh petugas pegadaian dengan menggunakan alat, diketahi bahwa uang tersebut palsu.

“Kalau saya belanjakan takut juga lalu kalau polisi menuduh saya, entar dibilang produksi. Saya juga sempat lihat, didompet pelaku ada pecahan uang Rp 100.000 yang banyak, saya kira kalau ditotal bisa sampai Rp 5 juta,” urainya.

Sementara itu, petugas Pegadaian yang bernama Syaiful Ali, yang kala itu diminta memeriksa keaslian uang tersebut mengaku uang itu palsu setelah mengecek melalui alat sinar ultra violet. Setelah itu Syaiful membeli uang palsu satu lembar Rp 100.000 tersebut dengan harga Rp 20.000. Tujuannya membeli uang palsu tersebut yakni untuk biro keuangan dengan menjadikan contoh keaslian mata uang rupiah. “Ada orang yang beli bensin lalu kabur, kata Rahayu seperti itu,” singkatnya.

Sementara itu, Kapolres Tarakan AKBP Dearystone Supit melalui Paur Subbag Humas, Ipda Denny Mardyanto menghimbau, kepada penjual khususnya bensin eceran, apabila menerima uang dari pembeli harap betul-betul dicek. Apabila mendapatkan uang palsu diharapkan warga sekitar segera melaporkan ke pihak yang berwajib dan kalau perlu lebih mengenal ciri-ciri pengedar uang palsu tersebut. “Biasanya uang palsu beredar pada malam hari, dan ditempat yang ramai. Kebanyakan uang palsu tersebut dibelanjakan di warung-warung kecil. Pihak Satreskrim Polres Tarakan juga masih melakukan penyelidikan terkait peredaran uang palsu tersebut,” pungkas Ipda Denny.

Disisi lain, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltara, Hendik Sudiarto menjelaskan, palsu dalam uang tersebut tidak boleh dikatakan sebagai uang. Dalam arti, ada temuan uang palsu senilai Rp 1 miliar, berarti itu adalah uang. Selain itu, yang yang dapat disebut sebagai uang palsu adalah nominal lembarnya. “Misalnya satu lembar uang palsu Rp 100.00 ini.” kata pria yang akrab disapa Hendik.

Hendik berharap kepada masyarakat, bagi masyarakat jangan langsung berbicara kepada media sosial dan langsung melapor kepada pihak yang berwajib. Pihaknya juga menata usahakan uang tidak asli ini melalui laporan dari bank, konsultasi kepada BI, dan laporan dari kepolisian. Jika masyarakat melapor, jangan kuatir untuk dipidana, sepanjang memang benar masyarakat hanya sebagai penerima. Untuk melihat keaslian uang sudah seringkali pihaknya sosialisasikan, dengan cara 3D (dilihat, diraba, dan diterawang). Sejak berdirinya kantor perwakilan BI di Kaltara, pihaknya sudah menemukan 11 lembar uang palsu pecahan Rp 50.000 tahun emisi 2005. “Kami juga sudah bekerjasama dengan pihak Kepolisian dan Kejaksaan Negeri untuk menanggulangi uang tidak palsu ini,” singkatnya. (lly/kia)

Waspada, Uang Palsu Mulai Beredar!

SUARA KALTARA
(Foto:Ist)

SUARAKALTARA.com,TARAKAN – Masyarakat Kota Tarakan harus lebih waspada terhadap peredaran uang palsu. Pasalnya, kemarin (9/9) sekira pukul 09.00 wita, masyarakat Tarakan dihebohkan dengan adanya penemuan uang palsu di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Selumit Pantai. Modus pelaku pengedar uang palsu, dengan cara membeli bensin eceran dipinggir jalan saat jam-jam sibuk kerja.

Saat ditemui, Rahayu yang merupakan korban penerima uang palsu menjelaskan, sekira pukul 09.00 Wita dirinya sedang menjualkan bensin ecerannya kepada salah satu pengendara motor. Lalu, pelaku yang tidak diketahui namanya tersebut sempat berbicara kepada Rahayu bahwa ingin membuka usaha warung makan.

“Jadi pelaku itu modusnya beli bensin dengan uang pecahan Rp 100 ribu," jelas Rahayu saat ditemui di dagangan bensinnya, selasa (5/9).

Lebih lanjut, pelaku pengedar uang palsu berciri-ciri berbadan tinggi besar dengan menggunakan kendaraan jenis Vario warna putih. Namun dia tidak mengetahui plat nomor kendaraan pelaku. Selang beberapa menit pelaku meninggalkan dagangan Rahayu, dia mulai curiga saat hendak menghitung uang hasil penjualan bensin ecerannya. “Saya curiga kok uang ini beda dan lihat benang merahnya kok rata. Lalu gambar di uang pecahan Rp 100.000  tersebut sangat berbeda sama yang asli,” beber Rahayu.

Kemudian setelah itu, ia menerima uang palsu, Rahayu langsung memberitahukan adiknya dengan bersama-sama membawa uang palsu tersebut pada bank yang persis berada di tempat ia berjualan. Namun, dari pihak bank tersebut, tidak mengetahui uang pecahan Rp 100.000 asli atau palsu. Belum menerima kepastian uang tersebut palsu atau tidak, lalu Rahayu menanyakan kepada petugas di PT Pegadaian terdekat. Saat diperiksa oleh petugas pegadaian dengan menggunakan alat, diketahi bahwa uang tersebut palsu.

“Kalau saya belanjakan takut juga lalu kalau polisi menuduh saya, entar dibilang produksi. Saya juga sempat lihat, didompet pelaku ada pecahan uang Rp 100.000 yang banyak, saya kira kalau ditotal bisa sampai Rp 5 juta,” urainya.

Sementara itu, petugas Pegadaian yang bernama Syaiful Ali, yang kala itu diminta memeriksa keaslian uang tersebut mengaku uang itu palsu setelah mengecek melalui alat sinar ultra violet. Setelah itu Syaiful membeli uang palsu satu lembar Rp 100.000 tersebut dengan harga Rp 20.000. Tujuannya membeli uang palsu tersebut yakni untuk biro keuangan dengan menjadikan contoh keaslian mata uang rupiah. “Ada orang yang beli bensin lalu kabur, kata Rahayu seperti itu,” singkatnya.

Sementara itu, Kapolres Tarakan AKBP Dearystone Supit melalui Paur Subbag Humas, Ipda Denny Mardyanto menghimbau, kepada penjual khususnya bensin eceran, apabila menerima uang dari pembeli harap betul-betul dicek. Apabila mendapatkan uang palsu diharapkan warga sekitar segera melaporkan ke pihak yang berwajib dan kalau perlu lebih mengenal ciri-ciri pengedar uang palsu tersebut. “Biasanya uang palsu beredar pada malam hari, dan ditempat yang ramai. Kebanyakan uang palsu tersebut dibelanjakan di warung-warung kecil. Pihak Satreskrim Polres Tarakan juga masih melakukan penyelidikan terkait peredaran uang palsu tersebut,” pungkas Ipda Denny.

Disisi lain, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltara, Hendik Sudiarto menjelaskan, palsu dalam uang tersebut tidak boleh dikatakan sebagai uang. Dalam arti, ada temuan uang palsu senilai Rp 1 miliar, berarti itu adalah uang. Selain itu, yang yang dapat disebut sebagai uang palsu adalah nominal lembarnya. “Misalnya satu lembar uang palsu Rp 100.00 ini.” kata pria yang akrab disapa Hendik.

Hendik berharap kepada masyarakat, bagi masyarakat jangan langsung berbicara kepada media sosial dan langsung melapor kepada pihak yang berwajib. Pihaknya juga menata usahakan uang tidak asli ini melalui laporan dari bank, konsultasi kepada BI, dan laporan dari kepolisian. Jika masyarakat melapor, jangan kuatir untuk dipidana, sepanjang memang benar masyarakat hanya sebagai penerima. Untuk melihat keaslian uang sudah seringkali pihaknya sosialisasikan, dengan cara 3D (dilihat, diraba, dan diterawang). Sejak berdirinya kantor perwakilan BI di Kaltara, pihaknya sudah menemukan 11 lembar uang palsu pecahan Rp 50.000 tahun emisi 2005. “Kami juga sudah bekerjasama dengan pihak Kepolisian dan Kejaksaan Negeri untuk menanggulangi uang tidak palsu ini,” singkatnya. (lly/kia)

No comments