Social Items

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tarakan, H M Ilham Noor




SUARAKALTARA.com,TARAKAN - Dunia pendidikan di Kota Tarakan kembali dihebohkan dengan adanya lima orang siswa yang bersekolah di Sekolah Dasar (SD) yang ada di Tarakan saat tidak mengikuti pelajaran Agama dan tidak melakukan penghormatan bendera merah putih saat upacara. Menurut keterangan yang didapat dari kelima siswa tersebut hal itu dikarenakan adanya larangan dalam kepercayaan mereka.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Tarakan, H.M Ilham Noor menjelaskan, pihaknya sudah pernah mendapati kasus yang seperti ini dan dirinya mendapatkan laporan dari kepala sekolah yang dimana siswa tersebut bersekolah.

“Jadi mereka itu tidak mau mengikuti pelajaran agama dan melakukan penghormatan terhadap bendera merah putih kemudian menyanyikan lagu kebangsaan. Alasan mereka itu dilarang oleh ajaran kepercayaan mereka,” jelasnya.

Lanjutnya, pihaknya sudah lama sempat mendapatkan kasus yang sama di salah satu sekolah yang ada di Tarakan dan kini kasus tersebut kembali terulang lagi disekolah yang berbeda. Dan saat mendapatkan laporan tersebut dari kepala sekolah, dirinya mengintruksikan kepada kepala sekolah dimana kelima siswa tersebut bersekolah untuk melakukan tindakan persuasif dan memberikan pemahaman kepada orang tua murid akan makna hormat kepada bendera merah putih.

“Sudah kita panggil ke sini orang tua murid itu dan kita tanyakan kepada mereka, maunya apa sampai tidak mau mengikuti pelajaran agama. Jadi mereka menjawab ingin belajar agama mereka sendiri dan saat upacara bendera mereka maunya anak mereka itu tidak melakukan penghormatan kepada bendera merah putih dan kalau ada acara keagamaan disekolah anaknya itu, orang tuangnya ingin anaknya tidak mengikuti acara itu,” terangnya.

Kemudian juga, dari kemauan orang tua siswa tersebut juga, pihak Dinas Pendidikan sendiri memberikan beberapa pilihan apakah ada guru dengan kategori standar pendidikan yang sesuai dengan kepercayaan mereka miliki.

“Saat kita berikan pilihan seperti itu mereka malah tidak menjawab, kan tidak ada guru agama yang sesuai dengan kepercayaan mereka,” ungkapnya.
Sementara itu juga, pihaknya sudah berusaha melakukan beberapa tindakan. Yakni dengan melakukan pendekatan persuasif terhadap siswa-siswa tersebut. “Kita sudah menjelaskan kepada orang tua dan siswa itu dengan memberikan pemahaman terhadap mereka, bahwa upacara bendera ini merupakan memberikan rasa hormat terhadap pejuang kita dalam memperjuangkan kebangsaan kita,” tuturnya.

Untuk sementara ini, kelima siswa tersebut sudah mulai mengikuti upacara bendera yang dilakukan tiap hari senin. Namun, kelimanya hanya mengikutinya dengan sikap sempurna dan Ilham sendiri tidak begitu mempermasalahkan sikap sempurna kelima siswa tersebut saat mengikuti upacara.

“Jadi sementara ini sudah pelan-pelan berubah, mereka mulai ikut upacara. Pokoknya kita akan memberikan pendekatan persuaisif terus kepada lima siswa tersebut,” bebernya.

Pihaknya juga dengan adanya kepercayaan yang dimiliki kelima siswa tersebut, dirinya sudah melaporkan ke Kementrian Agama (Kemenag) dan ke Tim Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Aliran Keagamaan dalam Masyarakat (Pakem) Kota Tarakan.
“Jadi kita sudah 3 kali adakan rapat pada Pakem tapi belum ada keputusan sama sekali dengan mereka masuk aliran agama yang perlu kita awasi,” tutupnya. (*/lly)

Beda Kepercayaan, 5 Siswa SD Tak Mau Ikut Kelas Agama

SUARA KALTARA
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tarakan, H M Ilham Noor




SUARAKALTARA.com,TARAKAN - Dunia pendidikan di Kota Tarakan kembali dihebohkan dengan adanya lima orang siswa yang bersekolah di Sekolah Dasar (SD) yang ada di Tarakan saat tidak mengikuti pelajaran Agama dan tidak melakukan penghormatan bendera merah putih saat upacara. Menurut keterangan yang didapat dari kelima siswa tersebut hal itu dikarenakan adanya larangan dalam kepercayaan mereka.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Tarakan, H.M Ilham Noor menjelaskan, pihaknya sudah pernah mendapati kasus yang seperti ini dan dirinya mendapatkan laporan dari kepala sekolah yang dimana siswa tersebut bersekolah.

“Jadi mereka itu tidak mau mengikuti pelajaran agama dan melakukan penghormatan terhadap bendera merah putih kemudian menyanyikan lagu kebangsaan. Alasan mereka itu dilarang oleh ajaran kepercayaan mereka,” jelasnya.

Lanjutnya, pihaknya sudah lama sempat mendapatkan kasus yang sama di salah satu sekolah yang ada di Tarakan dan kini kasus tersebut kembali terulang lagi disekolah yang berbeda. Dan saat mendapatkan laporan tersebut dari kepala sekolah, dirinya mengintruksikan kepada kepala sekolah dimana kelima siswa tersebut bersekolah untuk melakukan tindakan persuasif dan memberikan pemahaman kepada orang tua murid akan makna hormat kepada bendera merah putih.

“Sudah kita panggil ke sini orang tua murid itu dan kita tanyakan kepada mereka, maunya apa sampai tidak mau mengikuti pelajaran agama. Jadi mereka menjawab ingin belajar agama mereka sendiri dan saat upacara bendera mereka maunya anak mereka itu tidak melakukan penghormatan kepada bendera merah putih dan kalau ada acara keagamaan disekolah anaknya itu, orang tuangnya ingin anaknya tidak mengikuti acara itu,” terangnya.

Kemudian juga, dari kemauan orang tua siswa tersebut juga, pihak Dinas Pendidikan sendiri memberikan beberapa pilihan apakah ada guru dengan kategori standar pendidikan yang sesuai dengan kepercayaan mereka miliki.

“Saat kita berikan pilihan seperti itu mereka malah tidak menjawab, kan tidak ada guru agama yang sesuai dengan kepercayaan mereka,” ungkapnya.
Sementara itu juga, pihaknya sudah berusaha melakukan beberapa tindakan. Yakni dengan melakukan pendekatan persuasif terhadap siswa-siswa tersebut. “Kita sudah menjelaskan kepada orang tua dan siswa itu dengan memberikan pemahaman terhadap mereka, bahwa upacara bendera ini merupakan memberikan rasa hormat terhadap pejuang kita dalam memperjuangkan kebangsaan kita,” tuturnya.

Untuk sementara ini, kelima siswa tersebut sudah mulai mengikuti upacara bendera yang dilakukan tiap hari senin. Namun, kelimanya hanya mengikutinya dengan sikap sempurna dan Ilham sendiri tidak begitu mempermasalahkan sikap sempurna kelima siswa tersebut saat mengikuti upacara.

“Jadi sementara ini sudah pelan-pelan berubah, mereka mulai ikut upacara. Pokoknya kita akan memberikan pendekatan persuaisif terus kepada lima siswa tersebut,” bebernya.

Pihaknya juga dengan adanya kepercayaan yang dimiliki kelima siswa tersebut, dirinya sudah melaporkan ke Kementrian Agama (Kemenag) dan ke Tim Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Aliran Keagamaan dalam Masyarakat (Pakem) Kota Tarakan.
“Jadi kita sudah 3 kali adakan rapat pada Pakem tapi belum ada keputusan sama sekali dengan mereka masuk aliran agama yang perlu kita awasi,” tutupnya. (*/lly)

No comments