Social Items

( Foto : Ellya Achmad / SuaraKaltara.com)
Minggu, korban pemukulan 3 oknum TNI AU yang kini terbaring tak berdaya dirumahnya.





SUARAKALTARA.com,TARAKAN - Warga jalan Aki Balak kembali dihebohkan dengan adanya dugaan main hakim sendiri oleh oknum Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) kepada salah satu warga yang tinggal didaerah tersebut.

Pemukulan yang dilakukan Oknum TNI AU tersebut, terhadap warga tersebut diduga karena tidak ingin melakukan pembayaran pulsa dengan mengatasnamakan salah satu anggota TNI AU.

Saat dikonfirmasi, Minggu (korban.red) yang terlihat terbaring lemas dengan memar terlihat dibeberapa bagian tubuhnya. Minggu menceritakan kronologis kejadian, awalnya sekira pukul 17.00, kemarin (27/10) dirinya telah mendapatkan telpon dari seorang yang tidak dikenal dengan mengatasnamakan seorang TNI.

“Kan kebetulan saya juga kenal dengan salah satu anggota TNI yang di Lanud itu dan saya berfikir bapak itu yang menelpon saya, jadi saya layani aja dia menelpon,” jelasnya.

Lanjutnya, ketika dirinya meneruskan obrolan dengan oknum TNI AU itu, awalnya dirinya disuruh penelpon membelikan pulsa. “Jadi saya itu pak disuruh mengisikan pulsa di counter yang berada tidak jauh dari Mako Lanud Tarakan dan di suruh mengisi 5 nomor dengan pulsa sebanyak 200 ribu,” terangnya.

Usai mengisi nomor-nomor tersebut, penelpon lalu menyuruh Minggu untuk mengisikan satu buah nomor lagi. Namun, Minggu enggan untuk mengisikan nomor terakhir itu, dikarenakan sudah terlalu banyak yang dia isikan dan tidak sanggup untuk membayarnya.

“Saat penelpon itu menyuruh isi pulsa lagi, saya tidak isikan karena saya bingung untuk membayarnya dan saya sempat dijanjikan akan ditemui oleh oknum TNI tersebut untuk memberikan uang pulsa itu dan penelpon tersebut sempat mengatain saya dengan kata-kata kasar, kemudian menyuruh saya untuk meninggalkan KTP atau Motor sebagai jaminan untuk membayar pulsa itu,” tuturnya.

Kemudian, penjual pulsa tersebut menanyakan kepada Minggu tentang penelpon yang mengatasnamakan TNI AU tersebut.
“Jadi anggota TNI itu datang dan saya tanya sama anggota TNI AU pak, terkait nomor yang menelpon saya itu dan anggota TNI AU itu tidak mengenal dengan penelpon yang mengaku anggota TNI AU itu,” ungkapnya.

Saat itulah Minggu dibawa ke kantor Mako Lanud untuk dimintai keterangan terkait dengan adanya penelpon yang mengaku Anggota TNI tersebut.  “Saya saat itu didudukan dikursi dan dikasih sebuah kertas untuk menulis kronologisnya pak. Eh, belum selesai saya menulis, datang seorang TNI AU dengan menyebutkan saya bahwa telah membawa nama-nama Lanud dan saat itu saya langsung dipukul dibagian kepala saya,” terangnya.

Setelah Minggu mendapatkan pukulan pertama dari seorang anggota TNI tersebut, Minggu disuruh mengaku bahwa dirinya telah bekerjasama dengan penelpon yang mengaku TNI tersebut. “Jadi saya saat itu dipukulin terus pak dan ada juga anggota TNI AU itu menendang saya dan anggota itu ada yang memukul saya dengan sebuah kabel dibelakang saya, padahal saya tidak melakukan kerjasama terhadap penelpon itu,” keluhnya sambil mengeluarkan air mata.

Setelah menderita kesakitan, Minggu akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) untuk diberikan pertolongan karena terdapat luka memar dibagian belakang hingga wajah Minggu. “Jadi saya sempat dironsen dan diperiksa dokter di RSUD dan saya pulang kerumah dijemput om saya di RSUD, kemudian sekira pukul 03.00 subuh saya sampai dirumah,” bebernya.

Sementara itu, Komandan Lanud Tarakan, Kolonel Pnb Didik Kristyanto menjelaskan, pihaknya mengakui dengan adanya keterlibatan pemukulan terhadap Minggu dengan penelpon yang mengaku TNI tersebut, karena terdapat sebuah SMS di hp Minggu yang menunjukan penelpon tersebut bekerjasama dengan Minggu.

“Jadi ketika kami cek hpnya Minggu itu, kami melihat ada sms yang berisikan, gimana pak kalau kita tidak bisa bayar, Iya kalau tidak bisa bayar biar aja kita masuk penjara, kata penelpon itu yang mengaku TNI AU, Kita kan jadi curiga disitu,” tegasnya.

Diakuinya, untuk anggotanya yang terlibat pemukulan hingga saat ini ada 3 orang. Untuk hukumannya, saat ini ketiga oknum tersebut sudah masuk di dalam sel. Dalam melihat kasus tersebut, dirinya menganggap ketiga oknum tersebut melanggar kedisiplinan dan bukan hukuman secara administrasi. Diakuinya, terkait hutang pulsa dan perawatan terhadap anak tersebut sudah ditanggung oleh pihaknya.

Selain itu, anggota yang terlibat juga terjadi kesalahan dalam prosedur interogasi. “Jadi gak sampai 10 orang kok yang memukul anak itu, kan kita cuma intrograsi aja, ada yang proses intograsi Persuasif, Depresif. Jadi indikasi Shock Terapi. Namun kita juga masih bingung anak ini menutupi atau jujur dan kasus ini juga kita sudah lakukan penyelesaikan secara kekeluargaan dengan memberikan perawatan anak itu sampai sembuh,” tutupnya. (*/lly)

KASIHAN! Sudah Tertipu, Pria Ini Malah Jadi Korban Pemukulan Juga

SUARA KALTARA
( Foto : Ellya Achmad / SuaraKaltara.com)
Minggu, korban pemukulan 3 oknum TNI AU yang kini terbaring tak berdaya dirumahnya.





SUARAKALTARA.com,TARAKAN - Warga jalan Aki Balak kembali dihebohkan dengan adanya dugaan main hakim sendiri oleh oknum Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) kepada salah satu warga yang tinggal didaerah tersebut.

Pemukulan yang dilakukan Oknum TNI AU tersebut, terhadap warga tersebut diduga karena tidak ingin melakukan pembayaran pulsa dengan mengatasnamakan salah satu anggota TNI AU.

Saat dikonfirmasi, Minggu (korban.red) yang terlihat terbaring lemas dengan memar terlihat dibeberapa bagian tubuhnya. Minggu menceritakan kronologis kejadian, awalnya sekira pukul 17.00, kemarin (27/10) dirinya telah mendapatkan telpon dari seorang yang tidak dikenal dengan mengatasnamakan seorang TNI.

“Kan kebetulan saya juga kenal dengan salah satu anggota TNI yang di Lanud itu dan saya berfikir bapak itu yang menelpon saya, jadi saya layani aja dia menelpon,” jelasnya.

Lanjutnya, ketika dirinya meneruskan obrolan dengan oknum TNI AU itu, awalnya dirinya disuruh penelpon membelikan pulsa. “Jadi saya itu pak disuruh mengisikan pulsa di counter yang berada tidak jauh dari Mako Lanud Tarakan dan di suruh mengisi 5 nomor dengan pulsa sebanyak 200 ribu,” terangnya.

Usai mengisi nomor-nomor tersebut, penelpon lalu menyuruh Minggu untuk mengisikan satu buah nomor lagi. Namun, Minggu enggan untuk mengisikan nomor terakhir itu, dikarenakan sudah terlalu banyak yang dia isikan dan tidak sanggup untuk membayarnya.

“Saat penelpon itu menyuruh isi pulsa lagi, saya tidak isikan karena saya bingung untuk membayarnya dan saya sempat dijanjikan akan ditemui oleh oknum TNI tersebut untuk memberikan uang pulsa itu dan penelpon tersebut sempat mengatain saya dengan kata-kata kasar, kemudian menyuruh saya untuk meninggalkan KTP atau Motor sebagai jaminan untuk membayar pulsa itu,” tuturnya.

Kemudian, penjual pulsa tersebut menanyakan kepada Minggu tentang penelpon yang mengatasnamakan TNI AU tersebut.
“Jadi anggota TNI itu datang dan saya tanya sama anggota TNI AU pak, terkait nomor yang menelpon saya itu dan anggota TNI AU itu tidak mengenal dengan penelpon yang mengaku anggota TNI AU itu,” ungkapnya.

Saat itulah Minggu dibawa ke kantor Mako Lanud untuk dimintai keterangan terkait dengan adanya penelpon yang mengaku Anggota TNI tersebut.  “Saya saat itu didudukan dikursi dan dikasih sebuah kertas untuk menulis kronologisnya pak. Eh, belum selesai saya menulis, datang seorang TNI AU dengan menyebutkan saya bahwa telah membawa nama-nama Lanud dan saat itu saya langsung dipukul dibagian kepala saya,” terangnya.

Setelah Minggu mendapatkan pukulan pertama dari seorang anggota TNI tersebut, Minggu disuruh mengaku bahwa dirinya telah bekerjasama dengan penelpon yang mengaku TNI tersebut. “Jadi saya saat itu dipukulin terus pak dan ada juga anggota TNI AU itu menendang saya dan anggota itu ada yang memukul saya dengan sebuah kabel dibelakang saya, padahal saya tidak melakukan kerjasama terhadap penelpon itu,” keluhnya sambil mengeluarkan air mata.

Setelah menderita kesakitan, Minggu akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) untuk diberikan pertolongan karena terdapat luka memar dibagian belakang hingga wajah Minggu. “Jadi saya sempat dironsen dan diperiksa dokter di RSUD dan saya pulang kerumah dijemput om saya di RSUD, kemudian sekira pukul 03.00 subuh saya sampai dirumah,” bebernya.

Sementara itu, Komandan Lanud Tarakan, Kolonel Pnb Didik Kristyanto menjelaskan, pihaknya mengakui dengan adanya keterlibatan pemukulan terhadap Minggu dengan penelpon yang mengaku TNI tersebut, karena terdapat sebuah SMS di hp Minggu yang menunjukan penelpon tersebut bekerjasama dengan Minggu.

“Jadi ketika kami cek hpnya Minggu itu, kami melihat ada sms yang berisikan, gimana pak kalau kita tidak bisa bayar, Iya kalau tidak bisa bayar biar aja kita masuk penjara, kata penelpon itu yang mengaku TNI AU, Kita kan jadi curiga disitu,” tegasnya.

Diakuinya, untuk anggotanya yang terlibat pemukulan hingga saat ini ada 3 orang. Untuk hukumannya, saat ini ketiga oknum tersebut sudah masuk di dalam sel. Dalam melihat kasus tersebut, dirinya menganggap ketiga oknum tersebut melanggar kedisiplinan dan bukan hukuman secara administrasi. Diakuinya, terkait hutang pulsa dan perawatan terhadap anak tersebut sudah ditanggung oleh pihaknya.

Selain itu, anggota yang terlibat juga terjadi kesalahan dalam prosedur interogasi. “Jadi gak sampai 10 orang kok yang memukul anak itu, kan kita cuma intrograsi aja, ada yang proses intograsi Persuasif, Depresif. Jadi indikasi Shock Terapi. Namun kita juga masih bingung anak ini menutupi atau jujur dan kasus ini juga kita sudah lakukan penyelesaikan secara kekeluargaan dengan memberikan perawatan anak itu sampai sembuh,” tutupnya. (*/lly)

No comments