Social Items

DISKUSI : Fasda dan guru melakukan diskusi untuk menggali masalah pembelajaran literasi di kelas. Program INOVASI menggelar pelatihan bagi fasda di Tarakan pada 19 hingga 20 Desember lalu di Tarakan.


SUARAKALTARA. COM, JAKARTA – Setelah dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Irianto Lambrie dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) langsung menindaklanjutinya. Salah satunya adalah dengan merekrut 20 orang pengawas, kepala sekolah dan guru terbaik untuk memperkuat kemampuan Fasilitator Daerah (Fasda) dan menggali masalah pembelajaran di kelas, khususnya dalam bidang literasi. Bahkan fasda dan pejabat Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bulungan dan Malinau telah mengikuti sesi eksplorasi. Program INOVASI menggelar pelatihan bagi fasda di Tarakan pada 19 hingga 20 Desember lalu. “Berdasarkan informasi dari Manager Inovasi Daerah Provinsi Kaltara (Handoko) 20 pengawas tersebut meliputi guru, kepala sekolah, pengawas terbaik dari Bulungan dan Malinau, yang akan menjadi ujung tombak program Inovasi,” kata Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie.

Untuk diketahui, Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia atau Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia mengucurkan dana sebesar AUD 49 juta untuk program INOVASI di Indonesia. Dari sisi kualitas guru, disebutkan Irianto, di Kaltara masih banyak guru yang belum memenuhi standar kualifikasi sarjana. Di Malinau misalnya, data yang disampaikan, dari 1.011 guru yang terdata dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Kemendikbud, baru 57 persen yang berpendidikan sarjana. Sedangkan di Bulungan dari 1.300 guru, sebanyak 20 persen belum sarjana. Sebagian besar guru sudah sarjana memperoleh pendidikan Strata Satu (S-1) saat mereka sudah dalam masa jabatan.

Karena itu, dalam implementasinya, melalui program INOVASI ini dapat menemukan solusinya. Ditambah lagi pendekatan yang dilakukan harus massif dalam meningkatkan kualitas pendidikan tingkat dasar, pelajar maupun gurunya. “Meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat budaya baca, mendorong partisipasi orangtua dan masyarakat adalah solusi yang harus dilakukan secara massif,” ujarnya.

Lebih jauh Gubernur membeberkan, karena berdasar hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) yang dilakukan oleh Kemendikbud, menunjukkan nilai rata-rata literasi membaca untuk Kaltara, masih dua poin di bawah rata-rata nasional (RSPA). Temuan ini juga diperkuat survei Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (SIPPI) yang dilakukan INOVASI. Survei ini menemukan, bahwa hanya 14,59 persen siswa kelas 1 Sekolah Dasar (SD) yang mampu membaca dan 60,94 persen di kelas 2. “Bahkan dari anak yang bisa membaca ini tidak semua yang bisa memahami bacaan secara implisit maupun mengintegrasikan informasi dari beberapa informasi dan mencari informasi eksplisit dari bacaan,” ungkap Irianto.

Sejalan dengan temuan itu, Irianto menekankan bahwa membaca dan menulis merupakan kunci untuk mempelajari mata pelajaran lainnya. Dari itu, dibutuhkan intervensi yang dimulai dari kelas awal agar anak memiliki keterampilan membaca yang baik. “Upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan literasi, antara lain meningkatkan ketersediaan buku, memperbaiki metode pembelajaran, meningkatkan sumberdaya manusia dan dukungan masyarakat,” sebutnya.

Karena itu, Gubernur kembali menjelaskan, dibutuhkan intervensi untuk menyiapkan anak-anak di akhir kelas 3 agar memiliki keterampilan membaca dan menulis. Keterampilan ini dibutuhkan untuk belajar mata pelajaran lainnya. Jika anak sampai kelas 3 SD tidak mampu membaca dan menulis dengan baik, maka ia akan kesulitan belajar mata pelajaran lainnya. Bahkan anak tersebut berpotensi tidak menyelesaikan pendidikan karena terus tertinggal dalam pembelajaran.

Lebih lanjut dikatakan, dari sisi keterampilan mengajar, banyak guru kelas awal belum mampu mendesain dan mengajarkan keterampilan membaca di kelas awal. Keterbatasan pengetahuan, metodologi, media pembelajaran dan ketersediaan buku yang relevan menjadi tantangan buat guru. “Pelatihan kali ini banyak membantu saya unuk mengetahui cara-cara baru dalam mengajarkan literasi,” tuntasnya.(humas/riska)

INOVASI Rekrut 20 Pengawas

SUARA KALTARA
DISKUSI : Fasda dan guru melakukan diskusi untuk menggali masalah pembelajaran literasi di kelas. Program INOVASI menggelar pelatihan bagi fasda di Tarakan pada 19 hingga 20 Desember lalu di Tarakan.


SUARAKALTARA. COM, JAKARTA – Setelah dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Irianto Lambrie dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) langsung menindaklanjutinya. Salah satunya adalah dengan merekrut 20 orang pengawas, kepala sekolah dan guru terbaik untuk memperkuat kemampuan Fasilitator Daerah (Fasda) dan menggali masalah pembelajaran di kelas, khususnya dalam bidang literasi. Bahkan fasda dan pejabat Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bulungan dan Malinau telah mengikuti sesi eksplorasi. Program INOVASI menggelar pelatihan bagi fasda di Tarakan pada 19 hingga 20 Desember lalu. “Berdasarkan informasi dari Manager Inovasi Daerah Provinsi Kaltara (Handoko) 20 pengawas tersebut meliputi guru, kepala sekolah, pengawas terbaik dari Bulungan dan Malinau, yang akan menjadi ujung tombak program Inovasi,” kata Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie.

Untuk diketahui, Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia atau Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia mengucurkan dana sebesar AUD 49 juta untuk program INOVASI di Indonesia. Dari sisi kualitas guru, disebutkan Irianto, di Kaltara masih banyak guru yang belum memenuhi standar kualifikasi sarjana. Di Malinau misalnya, data yang disampaikan, dari 1.011 guru yang terdata dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Kemendikbud, baru 57 persen yang berpendidikan sarjana. Sedangkan di Bulungan dari 1.300 guru, sebanyak 20 persen belum sarjana. Sebagian besar guru sudah sarjana memperoleh pendidikan Strata Satu (S-1) saat mereka sudah dalam masa jabatan.

Karena itu, dalam implementasinya, melalui program INOVASI ini dapat menemukan solusinya. Ditambah lagi pendekatan yang dilakukan harus massif dalam meningkatkan kualitas pendidikan tingkat dasar, pelajar maupun gurunya. “Meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat budaya baca, mendorong partisipasi orangtua dan masyarakat adalah solusi yang harus dilakukan secara massif,” ujarnya.

Lebih jauh Gubernur membeberkan, karena berdasar hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) yang dilakukan oleh Kemendikbud, menunjukkan nilai rata-rata literasi membaca untuk Kaltara, masih dua poin di bawah rata-rata nasional (RSPA). Temuan ini juga diperkuat survei Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (SIPPI) yang dilakukan INOVASI. Survei ini menemukan, bahwa hanya 14,59 persen siswa kelas 1 Sekolah Dasar (SD) yang mampu membaca dan 60,94 persen di kelas 2. “Bahkan dari anak yang bisa membaca ini tidak semua yang bisa memahami bacaan secara implisit maupun mengintegrasikan informasi dari beberapa informasi dan mencari informasi eksplisit dari bacaan,” ungkap Irianto.

Sejalan dengan temuan itu, Irianto menekankan bahwa membaca dan menulis merupakan kunci untuk mempelajari mata pelajaran lainnya. Dari itu, dibutuhkan intervensi yang dimulai dari kelas awal agar anak memiliki keterampilan membaca yang baik. “Upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan literasi, antara lain meningkatkan ketersediaan buku, memperbaiki metode pembelajaran, meningkatkan sumberdaya manusia dan dukungan masyarakat,” sebutnya.

Karena itu, Gubernur kembali menjelaskan, dibutuhkan intervensi untuk menyiapkan anak-anak di akhir kelas 3 agar memiliki keterampilan membaca dan menulis. Keterampilan ini dibutuhkan untuk belajar mata pelajaran lainnya. Jika anak sampai kelas 3 SD tidak mampu membaca dan menulis dengan baik, maka ia akan kesulitan belajar mata pelajaran lainnya. Bahkan anak tersebut berpotensi tidak menyelesaikan pendidikan karena terus tertinggal dalam pembelajaran.

Lebih lanjut dikatakan, dari sisi keterampilan mengajar, banyak guru kelas awal belum mampu mendesain dan mengajarkan keterampilan membaca di kelas awal. Keterbatasan pengetahuan, metodologi, media pembelajaran dan ketersediaan buku yang relevan menjadi tantangan buat guru. “Pelatihan kali ini banyak membantu saya unuk mengetahui cara-cara baru dalam mengajarkan literasi,” tuntasnya.(humas/riska)

No comments