Social Items

Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie

TANJUNG SELOR – Pada 2019, berdasarkan data perkembangan indeksi harga konsumen/inflasi Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) bulan Desember 2019 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltara per 2 Januari 2020, terjadi inflasi tahun kalender sebesar 1,47 persen dan inflasi tahun ke tahun pada Desember 2019 sebesar 1,47 persen. Demikian disampaikan Gubernur Kaltara, Dr H Irianto Lambrie, baru-baru ini.

Capaian ini berarti sesuai dengan target inflasi yang dicanangkan pada 2019. Kondisi ini menggambarkan bahwa Pemprov Kaltara dan Pemkot Tarakan, sudah sangat bagus untuk meningkatkan gairah ekonomi di daerah. 

“Kalau berdasarkan analisa BI (Bank Indonesia), pada akhir 2019, inflasi Kaltara akan jauh lebih rendah dari 2018 yang mencapai 5 persen. Analisisnya, pada 2019, hingga November, inflasi baru 0,37 persen. Kalau tahunannya 1,98 persen, artinya historis data di Desember akan mengalami inflasi rata-rata di atas 1 hingga 1,5 persen. Jadi, diperkirakan inflasinya (tahunan) di kisaran 1,8 hingga 2,2 persen,” beber Irianto. 

Lebih jauh, di Kaltara pada November 2019 mengalami inflasi 1,09 persen, atau terjadi perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 147,95 pada November 2019 menjadi 149,56 pada Desember 2019. “Inflasi di Kaltara pada 2019, lebih besar dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi dan komunikasi,” kata Gubernur.

Dirincikan, pengaruh kelompok transportasi dan komunikasi terhadap inflasi Kaltara sebesar 4,56 persen. Disusul kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 1,22 persen, kelompok sandang sebesar 0,78 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,38 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,36 persen, dan kelompok bahan makanan sebesar 0,06 persen. “Kelompok yang mengalami penurunan harga adalah kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar -0,02 persen,” jelas Irianto.

Adapun salah satu jenis barang atau jasa yang tertinggi penyumbang utama inflasi pada Desember 2019, terdapat pada angkutan udara sebesar 0,6203 persen. Sedangkan salah satu jenis barang atau jasa yang tertinggi penyumbang utama deflasi pada Desember 2019 terdapat pada cabai rawit sebesar -0,1454 persen. 

“Guna menjaga tingkat inflasi IHK agar tetap berada dalam target, saya mengarahkan untuk mengambil tiga langkah strategis. Yakni, menjaga inflasi dalam kisaran sasaran, memperkuat pelaksanaan peta jalan pengendalian inflasi nasional 2019-2021 dengan menempuh pelaksanaan peta jalan pengendalian inflasi di tingkat provinsi , serta memperkuat koordinasi pemerintah pusat dan daerah dalam pengendalian inflasi melalui Rakornas Pengendalian Inflasi,” tutup Gubernur.(humas)

Pemprov Kaltara Berhasil Tingkatkan Gairah Ekonomi Daerah

SUARA KALTARA
Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie

TANJUNG SELOR – Pada 2019, berdasarkan data perkembangan indeksi harga konsumen/inflasi Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) bulan Desember 2019 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltara per 2 Januari 2020, terjadi inflasi tahun kalender sebesar 1,47 persen dan inflasi tahun ke tahun pada Desember 2019 sebesar 1,47 persen. Demikian disampaikan Gubernur Kaltara, Dr H Irianto Lambrie, baru-baru ini.

Capaian ini berarti sesuai dengan target inflasi yang dicanangkan pada 2019. Kondisi ini menggambarkan bahwa Pemprov Kaltara dan Pemkot Tarakan, sudah sangat bagus untuk meningkatkan gairah ekonomi di daerah. 

“Kalau berdasarkan analisa BI (Bank Indonesia), pada akhir 2019, inflasi Kaltara akan jauh lebih rendah dari 2018 yang mencapai 5 persen. Analisisnya, pada 2019, hingga November, inflasi baru 0,37 persen. Kalau tahunannya 1,98 persen, artinya historis data di Desember akan mengalami inflasi rata-rata di atas 1 hingga 1,5 persen. Jadi, diperkirakan inflasinya (tahunan) di kisaran 1,8 hingga 2,2 persen,” beber Irianto. 

Lebih jauh, di Kaltara pada November 2019 mengalami inflasi 1,09 persen, atau terjadi perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 147,95 pada November 2019 menjadi 149,56 pada Desember 2019. “Inflasi di Kaltara pada 2019, lebih besar dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi dan komunikasi,” kata Gubernur.

Dirincikan, pengaruh kelompok transportasi dan komunikasi terhadap inflasi Kaltara sebesar 4,56 persen. Disusul kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 1,22 persen, kelompok sandang sebesar 0,78 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,38 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,36 persen, dan kelompok bahan makanan sebesar 0,06 persen. “Kelompok yang mengalami penurunan harga adalah kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar -0,02 persen,” jelas Irianto.

Adapun salah satu jenis barang atau jasa yang tertinggi penyumbang utama inflasi pada Desember 2019, terdapat pada angkutan udara sebesar 0,6203 persen. Sedangkan salah satu jenis barang atau jasa yang tertinggi penyumbang utama deflasi pada Desember 2019 terdapat pada cabai rawit sebesar -0,1454 persen. 

“Guna menjaga tingkat inflasi IHK agar tetap berada dalam target, saya mengarahkan untuk mengambil tiga langkah strategis. Yakni, menjaga inflasi dalam kisaran sasaran, memperkuat pelaksanaan peta jalan pengendalian inflasi nasional 2019-2021 dengan menempuh pelaksanaan peta jalan pengendalian inflasi di tingkat provinsi , serta memperkuat koordinasi pemerintah pusat dan daerah dalam pengendalian inflasi melalui Rakornas Pengendalian Inflasi,” tutup Gubernur.(humas)

No comments